Thursday, September 01, 2005

Mengenang Cak Nur Lagi

Mengenang Cak Nur lagi, saya menemukan tulisan yang sangat menarik dan sangat argumentatif tentang prinsip kemanusiaan dan musyawarah dalam politik Islam. Tulisan Cak Nur sangat menarik, karena segimanapun “maju” –nya, sumber-sumbernya selalu Al-Qur’an dan Hadist. Untuk urusan yang ini, Cak Nur sangat ‘fundamentalis’. Ini berbeda, misalnya dengan pemikir liberal sekarang yang sering dituduh terlalu terpengaruh warisan pikiran Barat. Tidak dengan Cak Nur, meskipun pikiran-pikirannya bersesuaian dan beririsan dengan wacana populer di Barat, beliau menggalinya dari sumber-sumber Islam sendiri, karena memang Islam telah mengandung prinsip-pinsip tersebut sejak diturunkannya

Cak Nur melihat musyawarah dan praktek demokrasiyang sehat berakar dari pandangan kemanusiaan dalam Qur’an. Artinya, keharusan untuk bermusyawarah (dan berdemokrasi?) merupakan tuntutan dari prinsip-prinsip kemanusiaan dalam Qur’an sendiri, tidak dari mana-mana. Emang kayak gimana sih manusia? Beliau memulainya dengan ini:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (al-A’raaf : 172)

Ini merupakan perjanjian suci kita, manusia dengan Allah, pengakuan dari jiwa bahwa Allah adalah Tuhan, pusat seluruh orientasi hidup manusia (Tuhan, Rabb, bisa diartikan fokus/orientasi utama hidup). Implikasi dari ini, tiap manusia yang baru lahir ialah suci, tak membawa dosa apapun sekalipun dosa turunan dari Adam (Ar-Ruum: 30 : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ), juga didukung lagi hadist nabi: setiap anak dilahirkan dalam kesucian…).

Dimana tempat kesucian itu? “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya…” (Al-Ahzab:4). Selama manusia masih ber-nurani (nurani dari bahasa arab, yang artinya: ”bersifat cahaya terang”), ia hanya mengandung satu hal: kesucian, sebagaimana fitrahnya di awal. Tiap manusia berpotensi untuk suci, karena fitrahnya memang seperti itu.

Namun, manusia adalah makhluk dialektis. ”Manusia dijadikan bersifat lemah...”(An-Nisaa: 4) dan ”sebenarnya kamu (manusia) mencintai kehidupan dunia” (Al-Qiyamah: 20). Lemah disini, misalnya berpandangan pendek, menyukai hal yang instan, dll (untuk yang akrab dengan materi-materi tarbiyah, coba buka lagi ”Hakikatul Insaan”. Sangat similiar...). So, manusia pun berpotensi salah, karenanya ia diberi alat untuk memutuskan: akal-pikiran, lalu agama dan kewajiban-kewajibannya agar TERUS-MENERUS mencari dan memilih jalan yang lurus dan benar. Manusia (harusnya) selalu menjadi pejalan dan pejuang pencari jalan kebenaran. Bila kita menghayati setiap sholat kita, ingat ayat: ”tunjukkanlah kami jalan yang lurus!” dalam al-Fatihah, yang selalu kita baca berulang-ulang dalam sholat kita. Itulah kenapa kewajiban sholat itu akan selalu ada sepanjang seorang manusia hidup, tak peduli seuzur apapun ia. Sebagai sarana pengingat seumur hidup, karenanya sholat diwajibkan terus sepanjang hayat, karena perjalanan mencari jalan lurus adalah perjalanan sepnjang hayat.

Dari penjelasan tadi, dapat disimpulkan manusia adalah makhluk etis dan moral, yang dapat memilih berbuat sholeh atau salah, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu dihadapan-Nya kelak (lihat: Al-Zalzalah: 7-8). Sifat pertanggungjawaban ini tidaklah relatif, tapi sangat mutlak dan tak terhindarkan (Lihat: 40:16) serta bersifat sangat personal, tanpa bantuan dari siapapun (al-Baqarah: 48, al-An’am: 94).

Karena merupakan pertanggungjawaban, tentu saja manusia diberi kebebasan memilih, manusia memiliki hak dasar untuk menentukan perilaku moral dan etisnya. Tidak adilkan kalo kita harus bertanggungjawab tapi telah ditetapkan sebagai makhluk jahat oleh Tuhan-nya? Dan menjadi tak berguna juga sebuah pertanggungjawaban bila memang kita ditetapkan sebagai makhluk suci seperti malaikat (buat apa pertanggungjawaban jika sudah dari sononya bener?). Manusia itu merdeka memilih: ”kebenaran datang dari Tuhan-mu. Maka siapa yang MAU hendaklah ia beriman (menerima kebenaran itu), dan siapa yang MAU, biarlah ia ingkar (kafir, menolk kebenaran itu)”, Al-Kahfi: 29.

Karena sifatnya yang unik ini (ditetapkan ’bebas dan merdeka’ oleh Tuhan-nya), manusia menjadi makhluk mulia dan bermartabat tinggi yang berbeda dengan makhluk lain (At-Tiin: 4). Dikarenakan karena kedudukannya yang mulia inilah, setiap manusia, tak peduli siapapun dia, menjadi sangat berharga dan harus dihormati. Dalam Qur’an, barangsiapa yang merugikan manusia, seperti membunuhnya, ia seperti membunuh/merugikan seluruh umat manusia/kemanusiaan (Al-Maidah: 32).

Barulah implikasi dari itu semua, setiap manusia harus berbuat baik pada sesama, memenuhi hak pribadi-pribadi manusia lain dan tak merugikannya, dan mewujudkan masyarakat dan hubungan sosial-politik yang damai, terbuka dan saling menghargai. Politik, sebagai cara pemenuhan kebutuhan manusia, haruslah disesuaikan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam Islam sendiri. Begitu pun dalam bermusyawarah, rapat, dalam suatu forum, dll. Toh yang ada di sana pun, semuanya adalah manusia, lalu kenapa kita tak saling mendengarkan dan menghargai?

Dalam sholat, sarana hubungan vertikal kita dengan Allah, pada akhirnya ada salam kedamaian (Assalamu ’alaikum warahamatullah...), sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Itu mengisyaratkan keimanan dan ketaatan kita pun harus membawa manfaat dan kedamaian ke sekeliling kita, ke kanan dan ke kiri kita (kata bapak saya, kalo salam lagi sholat putar kepalanya sejauh mungkin ke kanan dan ke kiri – mungkin agar lebih banyak lagi ”manusia” dari segala penjuru yang menerima salam, lebih membawa manfaat bagi banyak manusia).


Yah, orang baik (dan hebat) sulit dicari...

2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. yah...paling tidak satu orang hebat dah lahir!!!nanti jangan sampei susah dicari yak Lucky...

    ReplyDelete