Friday, August 05, 2005

Cinta dan mencintai

Hari-hari ini infotainment yang saya tonton secara kebetulan maupun intensional lagi rame banget nayangin tragedi Bang Haji Rhoma Irama dan wanita-wanitanya (Angel Lelga, Rika Rachim, Veronica, dan denger-denger: "masih ada yg laen....". Busyet....). Pertama kali saya denger kabarnya dari adek saya yang pencandu TV. jadinya pensaran deh. Terus, jam setengah 12 ada Silet, tayangan yang sebenarnya sungguh norak, tapi rame sih...Sedang nayangin kisah-kasih Rhoma-Angel.

Seperti yang anda semua tahu (saya mengasumsikan, dengan penuhnya TV kita dengan infotainment dari jam 6 hingga 4 pagi, berita ini udah jadi konsumsi umum), sejak 2 tahun yang lalu Bang Haji kita ini gak pernah mau mengungkapkan sebenarnya apa sih hubungannya ama Mbak cantik kita, Angel Lelga. Lalu kemarin, saat Bang Haji sakit, Angel nengok. Sampai ngasih surat segala: "Sayang, saya ada di bawah, mau ketemu, untuk menyelesaikan semuanya" (atau semacam itulah bunyinya). Btw, surat yang sangat personal itu pun hebatnya bisa jatuh ke wartawan). Saat itu, di tempat yang berbeda akhirnya Roma mengakui Angel adalah istrinya yang dinikahi secara sirri, dan sekarang telah berpisah. Saya nggak tahu apakah Angel saat itu udah mendengar kabar dicerainya dia atau belum, tapi yang jelas Angel ngasih keterangan pers, terus dengan sangat dramatis....pingsan. Bayangkan, seorang perempuan cantik, dengan mata sembap karena tangis, menengok suami 'gelap' nya (karena ia dinikahi sirri) yang sebenarnya sudah menceraikannya, lalu tetap bilang, bahwa semua ini bukan kesalahan suaminya, betapa ia masih sangat menghormati dan menuruti suaminya, betapa ia rela mundur demi keutuhan (keluarga) suaminya, betapa ia malahan menyalahkan dirinya sendiri, menimpakan segala beban kesalahan kepada pundaknya!

Bayangkan wanita, maaf, maksud saya, manusia, yang secara logis terlihat sebagai 'korban', tapi tetap memikul kesalahan yang sebenarnya dilakukan penindasnya. Manusia mana yang sanggup menahan beban itu!!! Gak heran kalo Mbak Angel ini pingsan.

Tapi, yah...cinta selalu irasional. Saya yang melihat dari jauh, cuma bisa mengelus dada dan sedih aja. Sedih akan media yang vulgar banget mengorek hingga begitu dalam. Ikut sedih untuk Mbak Angel, sekaligus simpati (campur heran dan menyayangkan) akan 'cinta' Mbak Angel pada Bang Rhoma ini.

Saya juga bete banget (Bangeetttt!!!!) ama H. Rhoma Irama ini. OK, mungkin saja yang dilakukannya itu sesuai dengan kaidah syar'i. Ia tak pernah berzina, karena secara sah mengawini Angel, biarpun sirri (sembunyi-sembunyi). Tapi apakah itu cukup dan bisa jadi legitimasi? Gimana dengan perasaan Mbak RIka? Gimana dengan fitnah dan gunjingan yang beredar? Gimana dengan posisi Bang Rhoma sebagai public figure, yang da'i dan pedangdut? Dan mungkin yang paling penting, gimana dengan perasaan Mbak Angel sendiri? Apakah dengan kita cinta pada seseorang, lalu dekat dengannya, terus bisa langsung nikah sirri gitu aja, dengan alasan "supaya tidak zina"? Lembaga pernikahan bukan sekedar legitimasi hubungan syahwat!

Saya yakin sekali, saat Bang Rhoma sadar ia cinta pada Angel, ia tetap waras dan sadar penuh. Cinta adalah tabiat dan kecenderungan, tapi mencintai artinya memilih, memutuskan. Artinya, cinta, dengan imbuhan me- dan -i, menjadi sebuah kata aktif (bahkan kata yang proaktif), yang meniscayakan kemerdekaan bagi sang subyek untuk memilih dan memutuskan. "Saya cinta wanita cantik", misalnya. Itu wajar, tabiat dan kecenderungan manusia laki-laki. Ini berbeda dengan: "Saya mencintai seorang wanita dengan nama.....yang sekarang jadi istri saya", misalnya. Di kalimat yang kedua, ditunjukkan perilaku memilih secara sadar, pilihan untuk mencintai dengan segala risikonya, dengan seluruh komitmen yang ada. Ada KEMERDEKAAN disana! Merdeka untuk mencinta!

Karena mencintai adalah memilih dengan sadar dan merdeka, implikasinya ialah tanggung jawab dan komitmen kita dalam mencintai. Saat kita sudah memilih mencintai seseorang, ya sudah, pertanggungjawabkan. Gak perlu pengecut-pengecutan dengan nikah diam-diam. Terus ditinggalin gitu aja. Mana komitmennya? itu sih nafsu, bukan mencinta.

Bukankah inilah gunanya akal, untuk memberi pertimbangan dan keputusan dengan merdeka? Saya merasakan cinta, tapi tetap saya bisa memilih untuk meneruskan, apakah ingin terus (menjadi "mencintai") atau berhenti (yang akhirnya cinta itu juga padam...). Saya bisa putuskan, untuk menjauh (misalnya karena logically gak mau terluka, atau terlarang, dll) atau mendekat. Ketika putuskan mendekat, ingatlah kita sedang mencintai, yang harusnya selalu disertai komitmen.

Karena mencintai adalah masalah memilih, ndak usah pusing-pusing dan dipusingkan lah! Saat kita kira kita siap dan berani, saat itulah kita menyatakan mencintai. Kalau belum, mbok ya jangan maen-maen apalagi mempermaenkan orang lain....kan kasian...telah ada yang begitu berani mencintai (kayak Mbak Angel dalam kisah kita ini, yang rela dengan segala risiko termasuk diceraikan), tapi masih ada pengecut yang mencinta saja tidak becus!

Perilaku mencintai adalah perilaku manusia-manusia pemberani.
[Makanya saya masih jomblo...he3x...masih pengecut sih...]
03.15 pagi, 5 Agustus 2005, di Lab Pske TI-ITB. Jam segini masih sentimentil-sentimentilan, padahal jam 6 ada rapat....

9 comments:

  1. adit_bram3:49 AM

    akan lebih indah ketika tiba saatnya keberanian itu muncul maka akan seperti syair

    "Bidadariku"

    mas kawin untuk bidadariku
    adalah sekuntum bunga melati
    yang aku petik
    dari sujud sembahyangku
    setiap hari

    buah cintaku
    dengan bidadariku
    adalah lahirnya sejuta generasi teladan
    yang menggendong tempayan-tempayan kemanfaatan
    bagi manusia dan kemanusiaan
    pada setiap tempat,pada stiap zaman

    mereka lahir demi kesejatian sebuah pengabdian
    dalam abad-abad yang susah,
    abad-abad tidak mengenal Tuhan
    abad-abad hilang naluri kemanusiaan
    abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran
    dan mereka tetap kekar dan setia
    membela kebenaran
    dan keadilan

    estafet perjuangan kami berkelanjutan
    sambung-menyambung pada setiap generasi
    tak berpenghabisan
    terus bergarak
    mengaliri ladang-ladang peradaban
    seperti cintaku
    pada bidadariku
    yang terus tumbuh
    semakin subur
    dari hari ke hari
    laksana kalimat-kalimat suci
    di hati para salehin
    di hati para nabi

    (Habiburrahman El-Shirazy)
    dalam antologi puisi
    "NAFAS PERADABAN"

    ReplyDelete
  2. ki...stelah menganalisis kejadian rhoma irama...sebaiknya dijadkan pelajaran ke depan ya.. . perempuan itu disakiti segimanapun juga, dia akan bertahan.. . kalo dia sudah mencintai seorang laki-laki, dia akan mempertahankan cintanya, dia akan setia. ketika laki2 itu menyakitinya, dia akan tetap membelanya, walaupun...walaupun sebenarnya dalam hati dias udah tak tahn lagi, sudah sangat kesakitan. saya sudah melihat beberapa perempuan seeprti ini... . be nice to woman...

    ReplyDelete
  3. Lucky said:
    "Cinta adalah tabiat dan kecenderungan, tapi mencintai artinya memilih, memutuskan. Artinya, cinta, dengan imbuhan me- dan -i, menjadi sebuah kata aktif (bahkan kata yang proaktif), yang meniscayakan kemerdekaan bagi sang subyek untuk memilih dan memutuskan."

    ..hmmm..kecenderungan dan memutuskan..pernah denger kata-kata ini deh..

    semoga suatu saat Lucky bisa menjadi salah seorang manusia pemberani yang memutuskan untuk mencintai seorang bidadari..

    ReplyDelete
  4. Apa maksudnya cinta itu tabiat dan kecenderungan (ada tambahan laki-laki pula)?
    Mencintai bukan semata memilih dan memutuskan. Menjadi memilih ketika di dalam kerangka menentukan obyek yang akan menerima "cinta". ;) *masih mencoba memahami absurd-nya cinta lucky

    cintailah aku secara sederhana..

    ReplyDelete
  5. ..bner gun..
    gw juga tidak mengerti cinta-nya Lucky..
    untuk orang yang sering 'pake hati' kayak gw, kok teorinya Lucky nampak terasa aneh..hehehe...

    ReplyDelete
  6. adit_bram7:22 PM

    berbicara mengenai tabiat, gw jadi inget kata siape ya..kalo
    "seseorang mencintai itu adalah tabiat manusia,, bukan fitrah sebagi manusia..."

    tapi rada lupa nih penjelasannye pgimane......

    jadi sedikit menggoyangkan pemahaman yang dulu ketika banyak orang yang bilang "mencintai itu adalah fitrah sebagi manusia"

    ReplyDelete
  7. huaa...
    gw masi belajar menggunakan hati luk..
    belum nyampe tahapan belajar mencintai ni..hehehe...
    gw ga ngerti yang bagian "karena mencintai adalah memilih dengan sadar dan merdeka"
    bukannya cinta itu karunia ya??

    satu hal buat gw si.. cinta itu jadi mulia ketika ia tidak ingin memiliki... hehehe.. ga tau juga, cinta kayaknya sesuatu yang dewasa banget dan masi jauh dari gw...

    ReplyDelete
  8. huaa...
    gw masi belajar menggunakan hati luk..
    belum nyampe tahapan belajar mencintai ni..hehehe...
    gw ga ngerti yang bagian "karena mencintai adalah memilih dengan sadar dan merdeka"
    bukannya cinta itu karunia ya??

    satu hal buat gw si.. cinta itu jadi mulia ketika ia tidak ingin memiliki... hehehe.. ga tau juga, cinta kayaknya sesuatu yang dewasa banget dan masi jauh dari gw...

    ReplyDelete
  9. wah gila lu luck....bikin puyeng
    %tampang bego dengan bola mata muter"%

    gw mahh...ai lop u u lop mi...sikattt jack...hehehhe

    ReplyDelete