Monday, July 18, 2005

Tentang Diri

Seno Gumira Ajidarma menulis dengan bagus tentang 'penafsiran' di bagian awal tulisannya di Intisari bulan ini. Tentang Gie (again?). Ia bicara tentang Gie yang menfasirkan diri ke tulisan, tentang penyunting tulisan yang menafsirkan catatan Gie yang berserak, tentang yg lain lagi, sampai tentang Mira Lesmana dan Riri Reza yang menafsirkannya lagi ke bentuk gambar.

Saya jadi kepikiran...Pertanyaan paling berat buat dijawab secara konsisten buat saya ialah: "seperti apa sih, diri kamu itu?". Biasanya saya jawab sesuai konteks lingkungan yang saya inget. Biasanya saya jawab yang sekarang-sekarang ini saya rasakan. Kalo di forum, biasanya ada juga pengaruh temen. Kalo lagi baca zodiak atau shio, biasanya tersugesti: iya, ya..gw kayak gitu (Scorpio: passionate, mysterious...iya gak sih?).

Sebenarnya, itu semua, adalah penafsiran...interpretasi kita tentang diri. "diri" sendiri akan tetap menjadi misteri (atau malah nihil?). Akan tetap menjadi tak terpahami, diinterpretasi dan di-reinterpretasi, hingga menjelang mati.

Bukan pula proses "menjadi" kata ahmad wahib atau filsuf eksistensialis. Karena saat kita mendefinisikan atau menyatakan "diri" adalah proses menjadi tanpa akhir, itu pun sebuah tafsiran.

Ilustrasinya gini...kita lahir, polos, tanpa konsepsi, tanpa dosa. Kita belajar: mengenali papa-mama, belajar ngomong, belajar jalan, belajar mengingat, belajar sadar. Pernahkah kita secara sadar ingat bagaimana diri kita saat kecil? Saya kira tidak. Ingatan saya terbatas waktu umur 3 tahun aja, waktu saya inget maen tanah di halaman depan rumah ama anak-anak tetangga, yang terasa sangat membahagiakan. Saya ingat dulu saya make gelang di kaki yang bunyinya keras dan norak ("kencring, kencring!!") yang kata mamah, "biar gak ilang..." (busyet, kayak sapi aja!). Nah, sejak kita punya resources pikiran yang mampu membuat semacam konsepsi diri (penafsiran kita akan diri), kita mulai mengingat. Saat kecil, konsepsi saya (penafsiran saya) tentang diri sederhana aja: maen tanah, pake gelang. Itulah "diri" kita, hasil interpretasi kita.

Lalu beranjak gede...kita bergaul, kita belajar nilai keluarga, kita menyerap dari lingkungan. Kita mengamati diri kita ber-aksi-reaksi dengan elemen-elemen di lingkungan. Kita menyaksikan fenomena-fenomena, menyimpulkan bahwa ada semacam similiarity dari aksi-reaksi kita, lalu menyimpulkan: oh, saya itu orangnya ternyata gitu....Misalnya kita lebih banyak marah kalo ada masalah, maka simpulan kita: oh iya, saya orangnya gampang marah.Simpulan kita itu, menjadi konsepsi diri kita. Kita mengakui, sebenarnya, interpretasi kita sendiri. Itu menjadi terbawa, dan terus terejawantah dalam keseluruhan sikap kita.

Tapi apa emang kita reaktif gitu aja terhadap lingkungan? Nggak juga. Karena kita pun mampu mendefinisikan diri, membuat konsepsi diri sendiri. mau gimana kita, dan itu yang tertanam. Interpretasi kita tentang kita, sepenuhnya bebas dan tak terbatas. Tapi mungkinkah kalo gak ada lingkungan? Tidak mungkin! karena pasti awalnya dari lingkungan. Nature atau nurture? Tak relevan. Berawal dari lingkungan tak bisa dipahami sebagai nurture yang menang daripada nature, karena prosesnya yang saling interaktif. Yang jelas, kita kosong, dan melakukan interpretasi diri.

Pernah dengar kisah nyata tentang anak yang dibesarkan serigala? Lingkungan ia adalah kawanan serigala di hutan. akibatnya, ia menginterpretasikan diri sebagi salah satunya. Interpretasi itu menjadi konsepsi diri, dan terus dibawa. Kok dia nggak menafsirkan lain? gak mungkin. Gak ada input yang lain dari lingkungan.

Jadi, tak ada Lucky yang sinis, skeptis, pesimis, realistis. Yang ada adalah interpretasi Lucky tentang Lucky yang seperti itu. Interpretasi itu juga terserah saya, mau saya setuju atau tidak. Proses menyetujui atau tidaknya pun bisa sadar atau tak sadar, dan tak bisa dianggap proses setuju atau tidak secara rasional setrelah kita mendapat banyak fakta. Bagaimana Lucky yang sebenarnya? Jawaban paling aman adalah: wallahu a'lam.

Ketika interpretasi itu 'disetujui', maka implikasinya adalah ke perilaku, dan makin menebalnya konsepsi saya tentang diri saya itu. Perilaku saya, menjadi sesuai dengan konsepsi saya (yang menebal karena interpretasi terus menerus). Itu, dipahami kita sebagai karakter, watak atau sikap. Tapi apakah itu benar? Benar, itu adalah interpretasi!

Kata Foucault: power berimplikasi ke knowledge kita. Kuasa disini tidak dipahami sebagai kepemilikan kekuasaan kayak raja-raja (meski pun bisa juga). Kuasa disini dipahami sebagai hal otoritarian yang mempengaruhi. Elemen lingkungan kita pun bisa jadi hal ber-power itu. Misalnya, kita baca buku pengembangan kepribadian terkenal, yang sudah merasuk dalam pikiran kita: populer, sangat berpengaruh. Buku tersebut 'berpower'. Kita baca, kita merasakan ada kebenaran, dan akhirnya (karena 'power' tadi), kita melakukan interpretasi tentang diri menurut buku tadi. Kita terpengaruh (kekuasaan kan intinya pengaruh...), dan mendefinisikan diri seperti buku tadi. Ketika definisi diri itu kuat dan terus menerus, berlanjut ke konsepsi diri yang kukuh.Contoh 'buku' diatas bisa diganti: agama, latihan pengembangan diri ala ESQ atau siaware (apapun lah!), tokoh idola, ayah-ibu, teman, dll.

Makanya saya agak tidak antusias dengan training-training dan buku-buku pengembangan diri...Ada manipulasi power disitu. Kita menyerahkan diri untuk dipengaruhi, direnggut power kita, dan didesak power lain. Saya merasa kemerdekaan saya diganggu. (tapi beda hal nya kalo kita tau isinya, dan secara sengaja dan sadar memilih...kalo itu sih lumayan merdeka).

Gimana dengan horoskop, zodiak dan peramal? Dengan posisinya di masyarakat (sebagai 'peramal' yang 'bisa dipercaya', minimal banyak mempengaruhi), kita meletakkan otoritas pada hal-hal tersebut. Efeknya, karena definisi diri kita untuk hal-hal tertentu kurang kuat, ketika kita membaca, dan dengan pengaruh hal-hal tersebut, kita jadi merasa: "iya, ya...saya itu orangnya kayak gitu...". Yang sebenarnya saat itu adalah kita tersugesti. Celakanya, kita mengafirmasi, dan dikuatkan hingga jadi konsepsi. jadi, kalo saya baca zodiak, saya putuskan dulu, mo gimana diri saya. Ketika itu ada di zodiak, saya putuskan membiarkan diri saya tersugesti, biar melekat. ketika bertentangan, jelas dengan keras saya tolak! dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Supaya gampang, kalo ada yg bagus-bagus di zodiak, shio, atau apapun, saya sih terima-terima aja...biarkan segala sikap yang kita pilih dan tentukan bagus itu melekat...Kalo kita belum yakin tentang konsepsi diri kita, lalu membaca hal otoritarian tadi, lalu terpengaruh, saat itulah 'power' bekerja...Anda menginterpretasikan diri anda seperti itu...

Apa pesannya? Kita sepenuhnya MERDEKA! "Manusia dikutuk untuk merdeka", kalo kata Sartre (atau Camus?). Dan jangan biarkan kemerdekaan kita mau-maunya diintervensi.

[tapi implikasi dari kemerdekaan mutlak tadi...keterasingan. gak heran banyak filsuf eksistensialis yang murung dan desperate mulu....Begitu juga contoh Gie, yang saya lihat sangat terpengaruh eksistensialisme.]

Karenanya, saya meletakkan Yang Ilahi sebagai penguasa satu-satunya. Saya merdeka, tapi menuju-Nya. Alasan pragmatisnya: biar gak desperate...he3x. Lihatlah bedanya Kierkegaard, Iqbal dan Syari'ati (sebagai eksistensialis theistik) dengan Camus, Sartre, atau Nietszche...

Wallahu a'lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

2 comments:

  1. Lu makin mirip azka aja....
    wakakakak...
    soalnya dia pernah ngomong hal yang sama soal ini...

    yang gw pengen dari dulu gw tau si...kebenaran ilmiahnya seperti apa, pengaruh hormon,kromosom,otak dll terhadap diri sendiri... contohnya pengaruh kadar produksi hormon yang berbeda pada tiap orang mempengaruhi kepribadiannya seperti apa... dan seberapa signifikan pengaruh lingkungan itu sendiri..

    tapi gw sepakat si...gw juga dari dulu ga suka dengan training pengembangan kepribadian dll..
    klo gw mau berubah, harus dari dalam diri gw sendiri alasan untuk berubahnya... (eh,apa itu ga arogan ya..)

    ReplyDelete
  2. luck...jangan2 gara2 ngebaca post saya ttg zodiak dan kawan2nya itu ya..hehehe...wah gak nyangka ada tindak lanjut. jadi tersindir neeh...btw, bener.kalo berubahnya gak ada keinginan dari dalam diri..mau ikut training berjuta2 kalipun gak akan pernah kejadian deh itu perubahan. contoh kasus..saya!hehehe

    ReplyDelete