Sunday, July 17, 2005

Sulawan

Sulawan. Kata yang unik. Ternyata ini adalah terjemahan dari paradox. Bagus ya? Sangat Indonesia. Unik aja: sulawan.

Bioskop bukanlah tempat yang haram. Namun juga jelas bukan tempat yang suci. Menonton bioskop juga boleh-boleh aja. Tapi jelas tidak selalu menjadi tindakan yang terbaik.

Buat saya sendiri, menonton bioskop itu juga biasa aja. Ya, emang biasa! Tapi kadang-kadang ada perasaan bersalah dan nggak pantas aja. Rasanya ada waktu yang terbuang, menyumbang pada keramaian kapitalisme global, selain masalah filmnya sendiri yang emang kudu pilih-pilih.

Makanya saya merasa ada sebuah sulawan. ’Gie’ lagi diputer. Saya baca Intisari, terus ulasan Seno Gumira disana kayaknya film itu keren banget. Yang nulis Seno gitu loh! Jadi gw percaya aja. Pas makan (sambil baca), ada temen datang. Biasanya kalo emang ada film yang gw lumayan interest, terus ada temen untuk diajak, spontan deh: ”nonton Gie yuk! Jam 8.15, di regent”. Temen saya itu, mungkin karena dari dulu juga nyari kerjaan, mengiyakan saja.

”iya, ntar kita sholat Isya di Salman, terus cabut”. Sulawan pertama. Menonton film Indonesia di bioskop, mungkin tidak (terlalu?) salah, tapi langsung terasa sulawannya aja, kalo emang abis sholat berjamaah di masjid. Saat itu juga saya langsung sadar betapa sulawannya. Tapi waktu dikonfirm ke temen saya tadi, yang lebih tertarik belajar fiqih islam daripada saya, dan merasa biasa aja, saya jadi tenang.

Sulawan kedua, mungkin karena masih ngerasa sulawan yang pertama, gw ngesms ngajakin temen laen: ‘kita beriman sejenak.., nonton Gie yuk!;-p.‘ Biasanya, kalimat begini nih kalimat pembuka kalo pengajian, tapi sekarang dipake buat ajakan nonton bioskop.

Terus saya mikir-mikir…ternyata banyak banget momen-momen dalam hidup saya yang berisi sulawan kayak gini. Saya mengidealisasi mahasiswa yang ideal adalah yang lurus, konsisten, anti-hedon (jadi gak pernah ada acara nonton bioskop), tidak pacaran (bukan karena gak laku, tapi karena merasa perjuangan kok luntur kalau ternoda hal lain yang menghanyutkan kayak cinta ilegal…), tidak merokok (entah kenapa, saya sulit percaya perokok…), pinter secara akademis, pembaca segala, intelek, ilmiah, pembicara yang baik, pemikir yang luas, dalam, logis, dan peka, serta punya rasa keadilan yang kuat. Sebenarnya gak masalah juga misalnya saya nonton di boskop, tapi berasa sulawan kalo dihadapkan dengan idealisasi mahasiswa saya. Gak masalah juga saya minum coca-cola, tapi sekali lagi ada sulawan kalo dihadapkan dengan idealisasi saya. Boleh aja makan di McD, tapi tentu gak sesuai dengan idealisasi saya.

Jadinya ya...begitu banyak sulawan dalam apa yang saya lakukan dalam hidup ini...Tapi saya mencari rasionalisasi untuk menenangkan pikiran ini. Pertama, mungkin idealisasi saya terlalu berlebihan. Namanya juga idealisasi, kalo udah terjadi bukan ’ide’ lagi kan? Terus, terutama di ITB ini, saya adalah bagian dari generasi peralihan. Generasi di saat nilai-nilai lama luntur, dan terkontaminasi nilai-nilai yang lebih baru dan ngepop. Saya ngobrol dengan seseorang, anak 96, dan (seperti layaknya orang yg lebih tua), ia cerita tentang kondisi ITB zaman dia. Waktu ia bikin OSKM, dia sempat ngebahas tentang input angkatan baru yang disinyalir membawa nilai-nilai yang berbeda dengan yang selama ini hidup di ITB. Saya bingung. What values? Saya gak nangkep jelas berupa kata-kata sifat, tapi dari ceritanya, saya bisa sedikit menyimpulkan.

Pernah ada anak-anak Unpad temen dia yang mau ke ITB. Dia bilang, kalo ke ITB bajunya jangan kayak ke Unpad, pasti jadi bahan suit-suitan dan jadi makhluk asing di ITB. Dan bener aja. Pas ke ITB cewek-cewek Unpad tadi berasa jadi Alien di ITB. Terus, di student centre dulu (katanya) jarang keliatan cewek-cowok berduaan mesra. Minimal, ada sistem kontrol sosial yang membuat mereka bakalan merasa jengah. Wong tempat perjuangan kok dipake pacar-pacaran!!

Waktu saya pertama kali denger itu, terus terang aja saya kaget. Pertama, bisa dibilang gap generasi antara dia dan saya gak terlalu jauh: hanya sekitar 6 tahun. Kedua, kalo dari dua contoh tadi, saya bisa nyimpulin nilai-nilai lama tadi luntur di ITB. Kekagetan ketiga, ia berusaha menjadikan OSKM sebagai ajang penyampaian nilai-nilai lama tadi, tapi ternyata kalah arus dengan nilai-nilai angkatan baru. Dalam 6 tahun, bisa ada perbedaan yang sebegitu besar! Aktivis mahasiswa ITB dulu ternyata kolot dan konservatif secara moral (menjaga nilai-nilai lama yang sangat timur dan agamis) sekaligus radikal soal pemikiran dan keberanian bersikap.

Saya tak menyalahkan yang baru. Hanya memang ada perbedaan.

Jadi ngerti kenapa saya merasa banyak sulawan dalam diri saya? Meneruskan rasionalisasi...saya dibesarkan dalam budaya yang sangat ngepop dan urban, mungkin sejak saya berumur 4 tahun. Sebelumnya, saya masih sempat maen tanah-tanahan, maen dengan alam. Sejak 4 tahun, sejak mulai berkenalan dengan album anak-anak (inget lagu: ’kring-kring go-es-go-es...atau ”satu ditambah satu” ?) dan aneka ria safari di TVRI, doraemon di RCTI, kartun Yonkuro, Sharivan, Gaban, Tamiya, Atari, nintendo, sega...Dan teruslah saya hidup diiringi budaya pop, yang rupanya kebebasannya benar-benar memuncak sejak milenium lalu. Saya bisa menjelaskan gimana evolusi mesin video game mulai game watch sampe PS3 atau yang simulasi yg realistis sekarang. Saya lumayan hapal artis-artis cilik ampe Joshua (abis Joshua, saya hapal artis-artis yang udah gede...). Saya tahu film-film populer, lagu-lagu top 40, band-band ngetop, teknologi yang lagi in (meski kadng-kadang gak tau gimana makenya...). Puncaknya adalah, untuk pembatasan yang enak, saya mengambil milenium sebagai momennya. Di milenium ini, globalisasi, yang ditandai dengaan kecanggihan teknologi dan kebebasan informasi, ditambah lagi kondisi Indonesia yang sedang euforia kebebasan pasca suharto, keseluruhan tadi memuncak, dan terus menaik, dan menghegemoni berat....yang nggak ikut, adalah yang teralienasi! Dan di masa ’puncak’ inilah, masa saat saya masuk kuliah di ITB. Di masa puncak ini, era posmo, dimana segala nilai dan grand narrative dianggap tak relevan lagi, saya berkenalan dengan sisa-sisa nilai lama yang mencoba menyelamatkan diri sambil megap-megap di ITB. Itulah mungkin sulawannya.

Nah, rasionalisasi saya...ngikutin iklan kompas:

Karena zaman tak dapat dilawan.
Kepercayaan...harus diperjuangkan!

Mo gimana lagi? Inilah zaman yang saya kenal dan saya hirup. Tapi mesti ada nilai-nilai yang harus hidup. Nilai-nilai yang jadi, kalo kata iklan kompas, kepercayaan. Jadi sebenarnya bukan sebuah sulawan. Di zaman ini, itu semua kewajaran. Menjadi lebih ngepop, lebih terkemas dan terbranding baik...Ini zamannya pemasaran canggih.

Itu rasionalisasi saya...tapi kok masih terasa ada yang mengganjal ya? Pem-pop-an berarti juga pelemahan content dan esensi. Yang terlihat kemasan daripada isi. Gimmick. Ini yang sulit dihindari. Saya merasa masih ada sulawan. Saya yang salah karena tak berintegritas. Astagfirullah.

Yah, sudahlah...bingung ngomonginnya (diakhiri dengan kebingungan, keputus-asaan, tanpa tau hendak berbuat apa...).

[lucky luqman menulis, berakhir 1:26 AM 16 Juli 2005, abis nonton ’Gie’]

6 comments:

  1. Hanya sebuah pemikiran..

    Entah kenpa gak gitu suka sama kata 'idealisme' dan 'ideal'. Lebih suka bilang 'rasional'.

    Sesuatu yang ideal menurut gw hanyalah tujuan yang terlalu mengawang. Lagipula, mau sampai kiamat pun kita gakkan pernah mencapai suatu hal yang ideal.

    'Tak ada gading yang tak retak'.
    Peribahasa klasik yang selalu benar.

    Lebih suka dengan kata 'rasional' juga karena kata 'rasional' terdengar lebih manusiawi..

    Agak ngeri juga kalau ada mahasiswa yang ngomong tentang idealisme, takutnya mahasiswa itu gak bisa konsisten dengan idealisme itu saat terjun ke kehidupan yang lebih 'nyata'.

    Jadi..
    Lebih enak mana berusaha untuk ideal, dengan mengetahui bahwa keadaan tidak akan pernah menjadi ideal atau berusaha untuk tetap rasional?

    ReplyDelete
  2. lebih baik skeptis...tetap dengan punya 'idealisme' atau apapun namnya, tapi skeptis, dengan tetap berpijak pada kondisi yg realistis. Rasional itu wajib dalam semuanya, kan kita manusia....

    ReplyDelete
  3. jadi inget kata2 'Gie'nya itu sendiri...
    "Lebih baik mati dalam keterasingan daripada hidup dalam kemunafikkan"
    So,wich one do you choose??

    Ampe sekarang, semestinya gw memilih untuk tidak kalah pada dunia... Tapi, godaan emang makin berat euy... (God help me to be strong..hehe)

    Don't change for the world...cause you never know where you'll end up.. but change for your self..for what you believe... (my opinion si..)

    ReplyDelete
  4. gw ga suka skeptik, karena kedekatannya dengan pesimistik. lebih baik hidup dengan optimis.

    Gie (lagi) :
    ..Hidup adalah soal keberanian,
    Menghadapi yang tanda tanya,
    Tanpa kita mengerti,
    Tanpa kita bisa menawar,
    Terimalah dan hadapilah.

    ReplyDelete
  5. kie, ini bukan paradox, toh nonton tu masih masuk mubah lo...kecuali kalo nonton film panas..he....he. asal ngga berlebihan..inget kan hadits arbain no 12. kalo paradox tu kayak berdzikir di depan inul...kayaknya paradox tadi cuman dari konsepsi baik buruk lu aja dah

    ReplyDelete
  6. kalo milih antara idealisme dan realitas..kayakanya ngga bisa dah. harus dipadukan dua2nya...n buat memadukanya harus dibantu rasionalitas n nash (text)..kayak mbah yusuf Qardhawi..bikin konsepsi fiqh baru, fiqh waqi' (realitas) n fiqh auliyat (prioritas)..jadi bisa seimbang..istilahnya tawazun gitu kalo dalam basa arab

    ReplyDelete