Friday, July 22, 2005

Memurnikan....

Salahkah punya pikiran jelek? Salahkah ketika ada niatan yang melenceng dari tujuan semula? Salahkah ketika bertemu seorang cewek, terus membatin…”Subhanallah, Allah menciptakan makhluk seindah ini!” (ini format halus dari: “busyet, cantik banget!”) atau lebih dari itu?

Tidak apa-apa…wajar, manusiawi. Asal dimurnikan.

Karena, menurut guru saya, ikhlas sendiri berasal dari kata khalasa, yang artinya ‘memurnikan’. Saya orang biasa yang tidak suci dari segala niatan buruk. Jadi sulit sekali mengharapkan diri selalu terjaga secara mental dan fisik. Namun harapan saya, semoga bisa selalu ikhlas. Selalu memurnikan niatan-niatan. Dan beristighfar, tersadar semua niatan yang melenceng, lalu sekali lagi, memurnikan diri.

Urusan hati adalah urusan diri dan Ilahi. Tak seorang pun tahu apa yang ada di pikiran dan dalam niatan-niatan. Namun, implikasi dari memurnikan ini ternyata secara fisik bisa terlihat....Implikasi dari keikhlasan itu ternyata...kebenaran. As-Shidq.

Kalo kata Said Hawwa (Tazkiyatun Nafs, intisari Ihya Ulumuddin), implikasi dari keikhlasan adalah kebenaran. Kebenaran dalam niatan yang lillahi ta’ala, kebenaran dalam perkataan yang benar dan terjaga, kebenaran dalam tekad dan perjanjian, kebenaran dalam pemenuhan tekad dan janji-janji, lalu kebenaran dalam amal-perbuatan.

Yang menarik disini, Said Hawwa tak menulis implikasi dari ikhlas adalah ”kebenaran dari hasil perbuatan”, alias hasil yang baik. Orang-orang ikhlas adalah orang yang sangat memperhatikan proses, mulai dari yang paling dalam (niat) hingga yang paling kelihatan (amal-perbuatan). Mengenai hasil, ya...tawakkal aja.

Seberapa ikhlasnya seseorang sebenarnya bisa terlihat dari seberapa benar-tidaknya ia dalam melakukan proses-proses pekerjaannya. Tentu saja perbuatan yang benar juga. Yang juga murni dan dimurnikan. Karenanya tak ada keikhlasan, misalnya, dalam cinta yang ilegal. Itu tak bisa dibilang tulus-ikhlas! Tak pernah ada keikhlasan dalam hal-hal yang belum jelas benarnya.
Astagfirullah...diingatkan kembali. Alhamdulillah.


Ya Allah, masukkanlah hamba-Mu yang lemah ini ke dalam barisan orang-orang ikhlas!
[refleksi dari guru, rabu malam...]

No comments:

Post a Comment