Wednesday, July 13, 2005

"Memahami" Terorisme

Tulisan lama, ditulis Sabtu 10 September 2004. Abis bom kuningan. Dan kemaren ada lagi, kali ini di Inggris.Ikut berduka cita.Tulisannya juga curhatan, makanya pake 'aku'.
Kamis kemaren, 8 September 2004, lagi-lagi ada bom meledak di Kuningan, Jakarta. Di depan kedubes australia, dan ledakannya dahsyat banget. Kerasa pada radius belasan kilometer.

Dan aku menangis. Asli, nangis waktu sore, pulang kuliah dan capek banget, terus nyetel tv yang nyiarin breaking news. Ditambah lagi musik latar yang mendukung suasana, makin mengharu biru perasaanku rasanya.

Pertanyaanku saat itu, bukanlah siapa, atau apa. Tapi, kenapa? Aku gak habis pikir, benarkah Allah juga sempat menciptakan manusia sejahat itu? Ya, tentu saja. Kenapa ada orang yang mau naik mobil (keterangan terakhir, pembom memakai mobil daihatsu putih) yang tentu harganya juga gak murah-murah amat (kecuali kredit...aduh, ga penting), ngangkut 200 kg bom potasium klorat atau c4, lalu berhenti depan kedutaan dan ...duar! semua ancur, 6 orang tewas, ratusan luka berat dan ringan.

Reaksi sesaat kita sangatlah emosional: nangis, marah, sedih, kasihan, ngamuk, geram, heran. Tapi saat segala emosi reda (atau mulai mereda), timbul reaksi berikutnya, mengutuk, menuduh dan menyalahkan beragam pihak, mulai ‘muslim ekstrem’, polisi, BIN, hendropriyono,da’i (maksudnya da’i bachtiar...), amrozy dkk, abu bakar ba’asyir, noordin muhammad top, dr. Azahari, pemerintahan mega. Setelah itu, mari berpikir. Kenapa?

Kenapa sih para teroris itu menciptakan teror? Lah, kalo gak nyiptain teror ya bukan teroris! Itu jelas. Tapi kenapa? Tentu ada kepentingan. Dan kepentingannya gak sesimpel, misalnya, hanya karena benci satu pihak aja. Minimal, teroris yang pintar gak bakal sesederhana itu, dan rata-rata teroris pintar. Lalu apa? Tergantung terorisnya, dan siapa yang dianggap musuhnya. Teroris IRA dan GAM ngebom untuk menciptakan kesan ketidakmampuan pemerintahan sehingga timbul ketidakpercayaan pada pemerintah pusat. Teroris di irak (kalaulah boleh disebut teroris) ingin menyampaikan bahwa warga irak tidak suka segala bentuk okupasi oleh us dan kroninya. Teroris ‘muslim ekstrem’ (asumsi kalaulah memang benar) ingin mengeluarkan pernyataan perang kepada (sekali lagi) AS dan begundalnya. Tapi, dari semuanya bisa disimpulkan satu: menciptakan situasi teror dan ketidakamanan. Dan, karena tujuannya memang itu, dapatlah ‘dipahami’ kenapa teroris lebih senang ngebom fasilitas umum kayak mall, hotel, bus kota daripada markas militer atau kamp tentara. Bukan karena pengamanannya yang ketat, tapi dengan memilih fasilitas umum, juga dengan jumlah korban sipil yang banyak, efek ketidakamanan akan lebih terasa meluas. Apalagi, warga sipil dan orang2 waras lainnya relatif tidak biasa dengan manajemen kekerasan, berbeda dengan orang kayak tentara atau intel. Jadi, efek yang ditimbulkan pada warga lebih besar.

Sejatinya, para teroris ini orang-orang lemah, pengecut dan pintar. Lemah, karena jumlahnya dikit, peralatan tidak memadai, dan dana terbatas (relatif). Karena lemah, mereka pengecut, gak mau berkonfrontasi langsung dengan pihak yang dianggap lawan, gak mau langsung ngehancurin lawan (misalnya nyerang langsung fasilitas militer atau tentaranya sekalian), bahkan gak mau gerilya melawan, tapi ‘mengalihkan’ sasaran ke civilians yang tak berdosa, tentu dengan efek yang diharapkan besar. Sekaligus juga pintar, biasanya bergerak dalam sistem sel (antar mereka sendiri juga tak saling kenal) tapi terkoordinasi rapi. Kayak hantu...susah ditangkap dan kadang2 aja ada penampakan.

Dan sebenarnya, bukan hanya mereka yang sekarang ini digelari teroris aja yang menghalalkan cara2 kekerasan. Beberapa pihak lain, yang dicitrakan sebagai penegak hukum, kadang2 juga berlaku teror, bahkan lebih daripada para teroris. Pihak2 kayak militer, intelijen, atau bahkan sebuah negara atau pemerintahan kadang2 juga melakukan jalan kekerasan demi tujuannya.

Kenapa mereka mampu, dan tega mengebom banyak manusia tak berdosa, sedangkan kita aja sedih banget kalo nabrak kucing? Jelas karena mereka yakin akan tindakannya. Ada ilusi doktrinal/ideologikal yang menghunjam di tiap2 pikiran mereka. Ilusi itu ditanamkan dan terus diwariskan. Di komik master keaton, pernah diceritain permainan anak2 irlandia yang nyeremin. Permainannya semacam petak umpet, dengan 2 peran: IRA/ irlandia dan SAS (Special Air Service, bukan nama maskapai penerbangan, tapi pasukan elit inggris). Si anak kecil IRA ini (lengkap dengan jubah ala teroris kayak di CounterStrike) jumlahnya lebih banyak, dan nyari anak kecil SAS yang dikit. Dan, kalo ketemu, nggak kayak permainan jaman dulu kita yang adu lari ke tembok lalu nyentuh tembok, tapi digantung! Jadi, ada prosesi penggantungan si inggris oleh gerombolan irlandia tadi. Bayangkan, anak kecil! Telah ditanamkan benih2 kebencian sejak kecil!

Mengenai doktrinnya bisa macem2, dan agama adalah doktrin yang paling potensial dan mudah, karena memang bisa disalahtafsirkan sesuai kepentingan oleh para pembajak dan pemerkosa agama. Dengan doktrin itu, terjadi proses manipulasi pikiran, sehingga yang dianggap norma2 umum (termasuk aturan agama yang benar) sebagai suatu kesalahan jadi terasa benar dan dapat dibenarkan. Makanya gak usah heran amrozy senyum2 aja waktu dipotret, atau teroris yang gak ragu ngelakuin bom bunuh diri (tentu saja beda dengan bom jihad pejuang palestina).

Intinya emang para teroris itu gak orang-orang gak waras!

Pelajaran buat kita: bahayanya doktrin yang mendogma. Yang tak membuka ruang untuk dikritisi, dipertanyakan dan diuji. Makanya, proses kaderisasi harusnya adalah proses pembebasan dari segala macam mitos, dogma, dan doktrin tak berdasar serta merupakan proses pemandirian berpikir. Bertanyalah. Aku bertanya, maka aku ada. Kehidupan tanpa pertanyaan adalah kematian.

Jelas, terorisme itu berbahaya. Namun, kalau dilihat lebih dalam, apa sih akar masalahnya? Bisa sangat kontekstual, tergantung kasus. Tapi, bisa disimpulkan satu: ketidakadilan. Ada sebuah struktur ketidakadilan dan penindasan, dengan pihak teroris berada pada posisi tertindas. Kebijakan2 AS yang sejak dulu terlalu pro israel dan terus menekan dunia Islam, ditambah dengan penderitaan2, menyebabkan kesabaran sebagian muslim habis, dan akhirnya bertekad: LAWAN! Tentu saja tiap manusia punya batas kesabaran, (bahkan yesus ditiang salibnya pun ‘putus asa’ dan bilang: father, father....father into your hand i commend my spirit...why have you forsaken me?). Dan saat struktur penindasan itu makin menggencet, tak ada jalan lain selain melawan. Selama ketidakadilan dan penindasan terjadi, terorisme tak akan berhenti. Karena, ideologi teroris itu akan mendapat pembenaran dan akan terus diwariskan. Kalau saja AS lebih bijak dalam kebijakan luar negerinya dan mau menghentikan hegemoninya, saya percaya teroris akan berhenti meneror mereka. Kalau saja sejak dulu pemerintah pusat RI berlaku adil dalam, misalnya, pembagian kekayaan di aceh, gerakan separatis GAM tak akan muncul. Kalau saja Israel berhenti merampas tanah hak bangsa Palestina, bom bunuh diri akan berhenti.

Bahaya lain terorisme, yang kadang tak disadari, adalah kesengajaan beberapa pihak yang menjadikan isyu ini jadi komoditas demi kepentingannya. Diantaranya merancukan istilah teroris dengan pejuang kemerdekaan. Saya percaya, kemerdekaan adalah milik semua orang, segala bangsa, dan ketika dirampas, maka memang harus dilawan. Mujahid palestina vs israel , atau gerilyawan irak yang melawan AS sama sekali gak bisa disebut teroris. Mereka pejuang, yang mengambil kembali hak yang dirampas paksa.

Sekarang ini, dengan kuasa media, istilah itu dirancukan. Pokoknya, yang gak sesuai kepentingan negara2 penguasa, dianggap teroris! Untung zaman kemerdekaan indonesia dulu isu ini belum berkembang, karena bisa-bisa para pejuang kita dianggap teroris, dan soekarno adalah bapaknya teroris.

Bentuk lainnya ialah penggunaan isu ini untuk penyebaran ketakutan kepada warga, sehingga pemberangusan hak-hak sipil dianggap kegiatan yang wajar dan sudah semestinya. Yaa, mirip2 strategi Bush dan partai republik di amrik deh. Mereka jualan perang dan terorisme, dengan mencitrakan diri sebagai pelindung rakyat amerika yang ketakutan (atau ditakut-takuti) supaya pada milih dan melakukan investigasi dan interogasi brutal ke warga yang dicurigai teroris, dengan alasan2 yang kedengerannya gak masuk akal, misalnya karena bertampang timur tengah atau bernama depan muhammad.

Sial...duniaku yang kacau! Ya Allah kenapa tidak Kau segera akhiri saja dunia ini?

Wallahu a'lam bis showaab.

Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

3 comments:

  1. luck, aku mau nanya deh..apa benar tindakan2 itu dinamakan terorisme?? kalau menurut aku, itu adalah sebuah bentuk pembelaan diri (kecuali dalam beberapa kasus, seperti GAM saat ini). dan kenapa dunia tidak berakhir??? i always ask the same too..tapi bukankah dengan belum berakhirnya waktu akan makin banyak mujahid?? akan makin banyak orang yang tergerak hatinya untuk mengakhiri semua ini?(semoga saja...). dan makin terlihat siapa yang salah dan siapa yang benar??

    one thing..what is happening in palestine and iraq now is not terrorism...it's a fight against the terrorism itself!
    grazie

    ReplyDelete
  2. Anonymous3:50 PM

    Terorisme tidak cukup menggambarkan kasus 911, bom bali ataupun bank kuningan.

    Hal yg mengerikan dalam tragedi diatas adalah bagaimana manusia bisa membunuh manusia lain dgn sadis - padahal korbanya hanyalah "ordinary civilian" bukan tentara ataupun politisi. Jadi bolehlah terorisme ini digambarkan sbg penjagalan !

    Penjagalan ini terjadi pada banyak kultur seakan jadi tanda lembar berdarah dan gelap manusia. Lalu ia menjadi "energi gelap" yg memancing arena balas dendam di mana eskalasi kebencian makin tinggi.

    Dan ketika manusia melegitimasi alasan membenci karena dibenci , yah, maka manusia terpancing menjadi bagian pemercepat lingkaran dendam ini !

    Lingkaran itu memang ada dari dulu kala ! Lalu apakah kita termasuk mereka yg lebih suka lingkaran dendam ini lebih membara atau sebaliknya ?

    ReplyDelete
  3. iya sih..terorisme merupakan akibat kuasa, relasinya dan segala permainan kuasanya (apa sih yg gw tulis?).
    Kuasa itu niscaya. tinggal caranya.
    saya lebih suka dengan 'soft power', jadi mengutuk segala teror.
    namun, saya kok sekarang nggak percaya dengan ide 'meninggalkan lingkaran dendam' atau sejenisnya. karena itu, seperti kata anda, akan tetap ada. it's still, and will be there! saya memilih ikut, dengan 'soft power' tadi.
    salam.
    komentar anda sangat cerdas!
    ...sampe2 gw gak ngerti...hehehe ;p

    ReplyDelete