Monday, July 18, 2005

Gie dan Kesadaran Sosial-Politik Kaum Muda

Yang menarik waktu saya nonton Gie ialah...buku-buku yang ia baca. Di filmnya, kita melihat biografi Soekarno (versi Cindy Adams?), Gandhi, Rabindranath Tagore. Itu dikisahkan dibaca saat ia berumur belasan. Diskusi tentang sastra, tentang Gide. Itu saat SMP. Lalu terlihat juga karya Camus, The Rebel (emm..tidak baik membaca buku filsafat eksistensialis di usia muda, bisa membuat keras kepala...;-p), buku-buku Marx-Engels (On Religion, the German Ideology, dan judul lain). Buku-buku itu berpengaruh pada kesadaran dirinya, kesadaran sosial-politiknya.

Yang menarik lagi ialah, seperti yang dinarasikan pada awal film, betapa terpolitisasinya kehidupan saat itu. Ada lambang palu-arit besar sebagai background masyarakat yang ngantri makanan (bahasa gambar yang menarik...keliatan sekali betapa ironisnya). Lambang Masyumi dan PNI di pos-pos kamling (kalo sekarang). Aktivis PKI yang giat melakukan diskusi dan advokasi. Masyarakat yang dengan rela menulis besar-besar: REVOLUSI. Soekarno yang sering terdengar berpidato tentang beragam hal politis dengan jargon-jargonnya. Wajar saja. Saat itu, Politik sebagai Panglima.

Yang bisa saya bayangkan dan simpulkan ialah saat itu rakyat mendapat pengajaran politik yang memadai. Lepas dari caranya yang kebanyakan emosional dan searah (seperti pidato-pidato Bung Karno), serta rakyat yang ’dimanfaatkan’ dan diarahkan (oleh orang yang lebih cerdas secara politik: aktivis-aktivis ideolog partai, para ilmuwan-cendekiawan, serta para pembaca seperti Gie), pengajaran politik saat itu berlangsung. Rakyat yang lapar kenyang oleh wacana-wacana politis.

Tentu saja Gie, juga kaum muda di zamannya, yang lebih banyak membaca dan lebih banyak mengetahui, memiliki kesadaran politik yang lebih tinggi, yang membuatnya bisa melihat kebobrokan dan tanda-tanda kebobrokan sekecil apapun.

Hal yang sebaliknya terjadi sekarang. Sejak Soeharto menetapkan: Ekonomi sebagai Panglima!, rakyat digiring untuk mengurusi hal yang lebih ”konkret”: membangun ekonominya. Saat Soeharto turun, dan wacana politik marak lagi, tidak membuat kaum muda sekarang juga melek politik...

Karena, lagi-lagi, perbedaan zaman. Tahun 1960-an adalah masa perang dingin. Masa hubungan yang saling curiga antara negara-negara di dunia, yang mengimbas ke Indonesia. Sekarang? Gak zaman lagi. Ini era globalisasi. Ini masa mengkonsumsi. Kapitalisme lanjut. Maka dibukanya keran-keran untuk mencari beragam referensi politik juga tak membuat semua kaum muda cerdas secara politik.

Padahal...tanpa kesadaran ini, bisa-bisa kita jadi orang bodoh yang mau aja dipolitisasi, atau malahan dipolitiki. Oleh orang-orang yang memang lebih mengerti. Jangan heran kalo ”penguasa kampus ITB” adalah orang yang itu-itu aja, karena memang mereka-mereka itulah yang sangat cerdas secara politik.

Parahnya lagi, sekarang ini sedikit sekali lembaga/organisasi yang secara sadar melakukan pencerdasan politik. Sangat sedikit, dan tidak diminati. Apalagi di ITB sekarang. Hari gini ngurusin begituan? Mungkin begitu kata kita-kita.

Makanya saya sih bersyukur aja kalo masih ada organisasi-organisasi, dengan latar belakang ideologi apapun, yang masih concern mengurusi kaum muda untuk cerdas politik. Entah lewat pertemuan pekanan, pengajian-pengajian, lewat tulisan-tulisan mencerahkan (atau malah menyesatkan), diskusi-diskusi mingguan, beragam bacaan. Alhamdulillah. Karena saya tak dapat membayangkan kaum muda yang murni sangat apolitis...bisa gawat kalo entar ditahun-tahun kedepan, saat kita-kita yang muda ini mendapat masa ’memangku jabatan’. Seperti juga bahagianya Hassan Hanafi dulu, yang mensyukuri begitu luasnya pengaruh Ikhwanul Muslimin di kampus. Dengan begitu, ia dan kawan-kawannya mendapat pengetahuan politik yang layak.

Kalo saya sekarang sih, sekali lagi, mencoba berdamai dengan arus zaman. Wajar saja. Ikut nikmati saja, sekedar menghibur diri dan menertawakan (atau ditertawakan?).

Seperti kata seorang teman, saya ingin membayangkan Indonesia, di saat kepemimpinannya ada di masa kita-kita yang muda sekarang ini. Saat kita dipimpin oleh orang-orang yang sangat cerdas politik semenjak muda, memiliki integritas moral terpuji, juga profesional menguasai bidangnya. Walaupun arus zaman sama sekali tidak mendukungnya. Saya membayangkan, saat itulah kita merasa benar-benar bangga jadi bangsa Indonesia, saat kita mampu menggenggam dunia!!
[tumben saya optimis...;-p. Urusan masa depan memang harus dilihat dengan cerah dan kepala tegak!]

2 comments:

  1. Argh.. akhirnya lu nonton juga..
    pengkhianatan selalu ada dimana-mana tak mengenal lawan atau kawan, termasuk tidak mengajak-ajak nonton film he..he..he..

    ReplyDelete
  2. mengikuti arus zaman atau berkompromi dengan keadaan ?
    jgn selalu berdasar realitas lo luk...kan ada nash

    ReplyDelete