Tuesday, June 28, 2005

Dasar (untuk) Bergerak

Di hearing, pertanyaan paling sulit ialah: apa sih motivasi kamu? Bukan, bukan sulit menjawabnya. Mudah kalo yang itu: mau pilih yang paling mulia (’terpanggil...’, ’ingin membuat ...(isi dengan tempat beraktivitas) yang lebih baik’, atau sederhana ’demi rakyat’) atau yang paling maen-maen (’iseng aja...’). Yang sulit ialah menggali, merefleksikan, dan menyingkap apa sebenarnya motifnya.

Mungkin juga bukan menyingkap, tapi mengakui...Pertanyaan bisa dilanjutkan: kenapa sih kamu jadi ketua ini? Kok malem-malem masih ngerjain beginian? Kamu bersedia DO untuk ini, emang apa sih yang diperjuangkan?

Tidak ada perbuatan tanpa motif. Tak peduli perbuatan paling hina hingga perbuatan paling mulia. Termasuk juga dalam beraktivitas di kampus. Selalu bermotif, dari mulai nagihin uang wisuda hingga jadi Presiden KM. Dari mulai motif sederhana, cuma disuruh misalnya, sampai yang paling rumit, nyari pacar anak jurusan tertentu angkatan tertentu sekaligus mewujudkan idealisme (mana bisa?). Sayangnya, setelah 3 tahun saya rasakan di ITB, jarang sekali saya temukan orang (termasuk mungkin saya sendiri) dengan dasar, alasan untuk beraktivitas, idealisme, atau apapun namanya itu yang membuat kita beraktivitas, yang jelas dan sangat konsisten. Jangan tanya dengan orang yang berambisi atau menginginkan posisi tertentu: default saya, minimal, ada motif pribadi di dalamnya. Tidak suci. Mungkin berbeda pula bila ia punya idealisme untuk diwujudkan, tapi tetap aja, itu sifatnya pribadi. Wilayah pribadi yang dibawa ke publik, tentu untuk pribadi.

Padahal, bukankah yang dasar ini penting? Yang dasar inilah yang memberi kita pandangan dunia, panduan bergerak, termasuk juga filter dan batasan-batasannya. Ini adalah sebuah (sebut saja) ideologi, prinsip-prinsip, rangkaian nilai, yang dipegang, diyakini, dijadikan panduan, sekaligus juga selalu menjadi referensi yang selalu dicek ulang setelah kita beraktivitas. Nah, sayang sekali, jangan bicara tentang orang yang tak berintegritas (terhadap ’dasar’ yang telah dipilihnya), tapi bicarakan dulu tentang apa sih dasar mahasiswa-mahasiswa ITB ini beraktivitas?

Saya menduga, kalo itu dipikirkan, terus dipertanyakan dan digali, jarang sekali ada orang yang bisa dengan memuaskan menjelaskan. Jangan tanya anak tingkat 1, tanyakan pada kakak-kakaknya yang memegang jabatan-jabatan publik. Paling banter jawabannya : belajar. Siapa yang belajar? Jelas pribadi. Lho, bukannya anda memegang amanah publik? Kok buat pembelajaran pribadi?

Repotnya jadi ’aktivis’ zaman sekarang. Hidup di abad 21, saat perbincangan mengenai ideologi, pendidikan tentang nilai-nilai, yang serba ideal tak pernah tersampaikan dengan baik pada generasi mudanya. Tidak ada lagi pendidikan politik yang dalam dan intens, yang bisa membuat dirinya tersadar, benar-benar tersadar, tentang apa dan kenapa ia bergerak. Lebih repot lagi, kemalasan kita untuk membaca dan belajar tentang yang begini-beginian. Berat ah! Males!

Saya tak hanya bicara soal pemahaman. Kalo anda demo, dan paham betul masalah yang anda demoi, itu sih wajar. Kalau anda mau jadi ketua, dan paham tentang organisasi/kepanitiaan yang mau anda ketuai, paham bagaimana menjalankannya, itu juga jamak aja. Anda aktif di kaderisasi, menguasai teori dan aplikasinya, itu tak mengherankan. Ini masalah yang lebih fundamental dari itu semua. Ini adalah yang menuntun bagaimana anda memahami. A lifeview. Aqidah atau teologi-nya lah!

Jadi, apa yang sedang kita lakukan? Apa yang sedang kita rencanakan? Apa yang selalu kita geluti? Buat apa kita menduduki posisi-posisi publik? Kita adalah zombie, yang asyik sendiri, mencari darah segar untuk dihisap pribadi.

Dasar bergerak kita, ideologi kita, yang membuat kita beraktivitas sekarang ialah...oportunisme. Oportunisme yang menjelma dalam berbagai bentuknya: mencari pacar dan ngeceng, ngebagusin CV, ketemu temen, ambisi pribadi, biar keliatan keren, pembuktian diri, eksis, nambah pengalaman, nyelesain amanah/tugas pribadi aja, belajar (pribadi).

Sulit sekali menemukan orang yang bisa bicara seperti Hasan Al-Banna: Saya Hasan Al-Banna. Saya seorang MUSLIM. Dan anda, siapa anda?

Ya, siapa kita?

(kenapa kamu beraktivitas? Semoga bisa saya jawab tegas, dari hati dan perbuatan: demi agenda dan tujuan, dari apa yang mulia yang saya yakini!)

7 comments:

  1. Boleh aja Lucky bilang bahwa motivasi para aktivis sekarang adalah oportunis. Tapi, apa bisa Lucky membaca isi hati orang?

    ReplyDelete
  2. gw yakin pak, kalo orang itu punya satu, satu tujuan hidup yang paling tinggi dan mulia. nah ini yang harus jadi dasar bergerak. misalnya pengabdian kepada sesama.

    jadi sah kalau dia melakukan pekerjaan demi cv, agar dia bisa bekerja , nantinya uang kerjanya untuk membantu orang miskin.
    sah kalau jabatan itu ia jadikan pengalaman utuk masa depannya ketika ia harus memimpikan yayasan untuk mewujudkan pengabdian kepada sesama.
    sah kalau ia mencari calon isteri, guna jadi teman berjuang untuk menderma kepada anak yatim.

    sah-sah saja. tidak bijak juga mengatakan orang-orang diatas salah.

    yang selama ini salah,salah ketika niat itu sudah tidak lurus lagi dan tidak menuju ke satu tujuan termulia tadi.

    ReplyDelete
  3. hehehe
    saya juga suka sekali dengan ungkapan hasan al bana itu..

    ReplyDelete
  4. aditbram3:02 AM

    hati hati dengan hati kawan kawan

    sperti yang di tekenin bos lucky "semoga bisa saya jawab tegas, dari hati dan perbuatan"

    ReplyDelete
  5. Lucky Luqman Nurrahmat1:58 PM

    to kamal: tidak..hanya mengamati dan menyimpulkan. Hanya sebuah pandangan dan refleksi pribadi.
    to arif: kalo yg kayak gitu sih saya sepakat. dan perasaan saya tidak menyalahkan, hanya memberi pandangan. Salah-bener biarkan 4JJI menilai.
    to adit: iya, doa'in ya...

    ReplyDelete
  6. Niat seseorang, berhak gitu kita memberikan penilaian atau mempertanyakan.... Saya setuju dengan lucky,hanya yang di atas yang berhak menilai...
    Lebih baik kembali ke diri sendiri, punyakah kita suatu motif yang melandasi kita untuk bergerak...
    Jadi inget bukunya Nietzche (sori klo salah nulis), tentang sifat pertapa yang mencibirkan niat orang - orang dan merasa niatnya yang paling benar dan mulia...
    Semoga kita tidak menjadi pertapa itu..

    ReplyDelete
  7. mm...tapi kadang yah..walaupun niat yang untuk kepentingan pribadi sematapun sering memberikan manfaat yang besar bagi manusia di sekitarnya....
    pertapa?upss...gw baru mo niat jadi pertapa nie..alias mo pulang kampung semingguan buat nenangin pikiran, ngelurusin niat, nge-recharge semangat...alias mo perbaikan gizi..hehehhe...
    maklum perjuangan masih panjang.....

    ReplyDelete