Thursday, June 23, 2005

Adam dan Hawa

Kisah Adam dan Hawa tentu bukan kisah biasa. Selalu ada interpretasi-interpretasi menarik yang dilakukan orang-orang untuk mencoba memaknai cerita tersebut. Mungkin itulah alasan kenapa begitu banyak kisah di Al-Qur’an. Karena sebuah kisah tak akan pernah lekang oleh zaman, selalu bisa diinterpretasi dan di reinterpretasikan sesuai keadaan, sesuai kondisi kapan pun, sesuai sistem kebenaran yang mana pun. Beda misalnya dengan nasehat yang vulgar atau keterangan yang terlalu jelas. Bumi itu datar, misalnya. Dulu benar, sekarang salah. Sekarang, bumi itu berbentuk seperti bola yaang pepat. Sekarang benar, belum tentu nanti. Kali aja, dengan sistem/pendekatan baru, bisa dibuktikan berbeda. Kebenaran (yang semacam itu) selalu relatif.

Berbeda dengan kisah, cerita atau mitologi. Ada nilai disana, tapi itu tersirat dan memerlukan interpretasi. Sedangkan interpretasi seseorang tentu saja dipengaruhi lingkungannya, paradigma berpikirnya, sistem nilai yang diyakininya, dan faktor-faktor lain. Bisa didapatkan hasil yang berbeda dari pemaknaan orang yang berbeda. Karenanya, sebuah kisah atau mitologi selalu aktual. Camus terinspirasi dan menggunakan kisah Sisifus (dari mitologi Yunani) untuk menjelaskan filsafat eksistensialis a la dia. Kisah Prometheus, juga bisa dianggap menggambarkan pandangan dunia Barat (ini kalo menurut Ali Syari’ati). Nietzsche menggunakan Zarathustra dan menulis dalam bentuk aphorisme untuk menjelaskan filsafatnya. Makanya para ”penafsir” Nietszche kadang-kadang berbeda pendapat tentang filsafatnya.

Kita bisa banyak belajar dan mengambil serta terus menggali hikmah dari kisah-kisah. Dan pasti juga kisah Adam dan Hawa. Penafsiran kita akan kisah ini menunjukkan pandangan hidup dan menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental hidup manusia.

Kisah Adam dan Hawa adalah ’mitologi’ dunia, meskipun aslinya berakar pada agama-agama Semit ( Yahudi, Nasrani dan Islam). Di antara agama tersebut pun sebenarnya ada variasi ceritanya. Cerita yang berbeda tentu saja akan melahirkan penafsiran yang berbeda. Penting buat kita, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ultimat hidup (dari mana saya berasal, kemana saya menuju, buat apa saya hidup?), memilih kisah yang tepat dan interpretasi yang benar. Tapi itu terserah masing-masing kita.

Oke, langsung aja ke tafsiran versi Muhammad Iqbal. Ini adalah tafsiran yang selalu saya sukai. Bukan hanya karena saya sangat kagum Iqbal, penyair besar Pakistan itu, tapi juga dengan penafsiran Iqbal saya merasa kejatuhan Adam dari surga (karena memakan buah terlarang) bukanlah sebuah tragedi atau ’dosa turunan’, tapi malahan sebuah momen kebangkitan dan kemerdekaan manusia. Sebuah anugrah. Blessing in disguise.

Menurut Iqbal (dari buku magnum opus-nya: Reconstruction of Religious Thought in Islam – buku bagus, tapi berat banget, dan gak pernah bisa nyelesain...- ) dalam tulisan Gunawan Moehammad (”Mencoba Berbicara tentang Iman”, dari sebuah jurnal medio 90-an), Perjanjian Lama ’mengutuk bumi sebagai tempat pembuangan Adam karena pembangkangannya’, sedangkan Qur’an ’bermaksud menunjukkan kebangkitan manusia dari suatu keadaan primitif dengan selera dan nuraninya, menuju kesadaran bahwa ia memiliki suatu ego yang merdeka, yang mampu untuk bersikap ragu-ragu dan mampu pula untuk membangkang. Kejatuhan manusia tak berarti kejatuhan moral, melainkan merupakan perubahan dari kesadaran yang bersahaja menuju cahaya pertama kesadaran diri’.

Kejatuhan Adam, berarti juga kemerdekaan pertama manusia. Disinilah momen pertama manusia menyadari sepenuhnya dirinya, kelebihan-kelemahannya, kegembiraan sekaligus ketakutan akan kebebasan yang sepenuhnya ia miliki. Akankah ia ikut jalan Iblis atau jalan Tuhan? Sejak Adam ’jatuh’, hal itu sepenuhnya jadi pilihannya.

Dalam puisinya, Iqbal mengisahkan tentang Adam:

Hidup yang penuh pertarungan, ketegangan
Dan tekanan lebih baik dari kedamaian kekal.

Atau dalam bagian yang lain:

Baik dan buruk, bijak dan dosa,
Adalah dongeng yang dicipta Tuhanmu.
Mari, ciciplah kelezatan tindakan
Majulah ke depan memburu pahalamu.

(”Penaklukan Alam”, dalam Payam i Mashriq)

Kejatuhan Adam bukanlah dosa turunan yang perlu ditebus dengan kematian manusia lain (seperti interpretasi sebagian orang). Kejatuhan Adam adalah langkah besar buat kemanusiaan kita! Tanpa kejatuhannya, kita tak akan pernah sempurna menjadi manusia: bayangkan manusia tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah, tanpa hasrat, tanpa nafsu dan gairah.

Ini penafsiran yang menarik. Bagian cerita Adam lainnya rata-rata ditafsirkan ”standar” : manusia diberi potensi, untuk baik maupun jahat, dijadikan khalifah, dll.

Untuk bagian ini, penafsiran yang menarik ialah dari Ali Syari’ati. Allah menciptakan Adam dari tanah liat hitam, setelah itu ditiupkan sebagian ruh-Nya. Ini menunjukkan manusia yang bisa menjadi sangat rendah dan hina (diciptakan dari tanah kotor!) sekaligus juga mengajak manusia menuju puncak spiritual tertinggi, yaitu Zat Yang Maha Suci (manusia diciptakan dari ”Ruh Tuhan”!). Kedua kutub tersebut saling menarik:

Manusia adalah suatu kehendak bebas dan bertanggungjawab yang menempati suatu stasiun antara dua kutub yang berlawanan, Allah dan setan

(Syari’ati, on the sociology of Islam, dalam Ekky Malaky ”Ali Syari’ati, filosof…)

Manusia selalu menjadi realitas dialektis, tempat kebaikan dan kejahatan selalu bertarung. Kita selalu beranjak dari “tanah” yang hina menuju “langit”. Menurut Syari’ati lagi, Tuhan-lah yang menjadi guru pertama manusia. Ia mendapat pengetahuan langsung dari-Nya. Namun, karena unsur tanahnya, manusia memiliki sifat pemberontakan. Sejak Adam diturunkan, ia menjadi suci (dosanya telah diampuni), dan dijadikan khalifah yang diberi amanah berat yang ditolak bahkan oleh gunung-gunung: free will. Kehendak bebas adalah amanah dari Tuhan untuk manusia menurut Syari’ati.

Adam-Hawa (manusia) jatuh ke bumi, dengan mengemban amanah (free will), dan dibekali tiga aspek (dalam kurung adalah simbolisasinya) : Cinta (Hawa…oke lah, dari sudut pandang wanita: Adam), akal (setan), dan pemberontakan (buah terlarang). Dalam puisinya:

Manusia, pembangkang Allah
Tangannya yang satu menjabat setan-intelek
Sebelah lagi memeluk Hawa-cinta kasih
Pundaknya tertindih beban Amanah
Turun dari surga sarat nikmat
Sepi dan asing di bumi
Dia berontak, tapi selalu rindu kembali
Jalan selamat didapatnya dari ibadah
...

Waduh...berat ya? Sekarang ”tafsiran” yang ringan deh, dari Mark Twain. Sangat personal, judulnya aja: Catatan harian Adam. Kata Adam di hari Senin:

Makhluk baru dengan rambut panjang ini sungguh menyusahkan. Selalu berkeliaran dan membuntutiku. Aku tak nyaman; aku tak biasa dikawani. Kuharap ia akan tinggal bersama binatang-binatang lain...Hari ini berawan, angin di timur; sepertinya kami akan kehujanan. ...Kami? darimana kuperoleh kata itu? Kuingat sekarang – si makhluk itu baru mempergunakannya.

Mark Twain menulis dengan gaya satir dan kocak tentang perasaan Adam pada Hawa – pria pada wanita. Di bagian selanjutnya Adam mengeluh akan Hawa yang cerewet (selalu menamai dan berbicara tentang semua yang ditemuinya!), Hawa yang terlalu banyak makan, Hawa yang selalu merapi-rapikan dan memberi surga dengan tanda-tanda, Hawa yang tak pernah dipercaya bahwa ia juga adalah manusia (sama seperti Adam) dan tercipta dari tulang rusuknya, Hawa yang selalu mengikutinya!

Namun pada akhirnya: Hawa yang dicintai Adam. Di kuburan Hawa, Adam berkata:
Kemanapun Hawa pergi, disitulah Surga

Masih banyak yang bisa digali dan ditafsirkan terus dari kisah ini...Maaf juga kalau tulisannya sangat ’laki-laki’. Sebenarnya analog juga untuk perempuan, sama aja.

Adam merdeka, manusia merdeka, kita merdeka. Adam bebas bekehendak, seperti juga manusia dan kita. Adam memberontak, ia jatuh, lalu memilih jalannya menuju surga. Kita jatuh, bangun lagi, jatuh lagi --- semoga terus dalam jalan menuju surga...

Dan cintailah Hawa-mu...



4 comments:

  1. luck, kenapa nulisnya sebagian besar hanya dari sisi adam aja..
    dan lebih banyak adam yang diceritain dibanding hawa. Padahal, judulnya 'adam dan hawa' nah lo....
    diskriminasi genderkah? Hehehe...

    ReplyDelete
  2. btw, lo bukannya dah posting blog yg 'adam dan hawa' tgl 17 juni ya?
    tapi kalimat terakhirnya..
    Dan baik-baiklah dengan Hawa-mu...
    hehehe...

    ReplyDelete
  3. 'Hidup yang penuh pertarungan, ketegangan
    Dan tekanan lebih baik dari kedamaian kekal'

    Jadi inget film G.I.Jane,ada satu kalimat di film itu yang terus gw inget pe sekarang...
    'The beauty of pain is knowing you're still alive'

    mungkin sudah sebaiknya kita berterimakasih atas semua tekanan dan penderitaan yang kita punya... karena dengan tekanan itu kita tau apa arti hidup...
    he3x... gw so tau...

    ReplyDelete
  4. Eh, terima kasih atas kisah Adamnya. Kebetulan saya lagi nyari tuk bahan ceramah, hehehe.

    ReplyDelete