Monday, May 23, 2005

Menulis di evaluasi PPAB MTI 2004-2005

Ini tulisan di buku evaluasi PPAB MTI 2004-2005, tulisan pembukanya. Seneng juga bisa selesai, dan bukunya bisa jadi. Alhamdulillah...

Darimana kita tahu kejayaan dan kehancuran bangsa-bangsa dan peradaban di dunia? Darimana kita mengerti tentang hebatnya Gajah Mada, kejamnya bangsa Mongol, atau indahnya kota Cordoba dahulu?
Kita bisa bilang: dari perkataan pendongeng, dari ngobrol ama temen, dari televisi dan film-film.
Lalu mari bertanya lagi: sumber mereka dari mana?
Sejarahwan.
Dan dari mana sejarahwan bisa mengetahui dan menyusun sejarah?
Tulisan.
Dari tulisan, yang ditulis langsung oleh pelaku/pengamat peristiwa-peristiwa di masanya, dan abadi peninggalannya, hingga bisa kita kenang, baca, pelajari, pahami.

Sejarah selalu dimulai lewat tulisan. Mungkin, dahulu sekali, ada kerajaan superpower di Indonesia yang wilayahnya membentang se Asia-Eropa dan Afrika. Tapi maaf, tak ada dokumentasi tertulis tentang kerajaan yang kita andaikan itu. Kesimpulan kita: di Indonesia (atau Nusantara) tak pernah ada kerajaan itu (meskipun, wallahu a’lam –hanya Allah yang Mengetahui-, mungkin saja pernah ada). Kalau kata Descartes: I think therefore I’m exist, kita bisa meneruskan: I’m exist (only) if I write my existence.

Kita ada jika kita menulis. Kita bisa mulai menyejarah bila kita mendokumentasikan semua, dan menjaga, sehingga bisa dikenang, dibaca, dipelajari, dipahami.

Terlalu berlebihan kalau menyebut PPAB adalah proses yang menyejarah. Namun, mungkin semua sepakat bahwa regenerasi dan kaderisasi adalah proses yang sangat penting, apalagi bagi organisasi mengalir seperti MTI. Di proses itu mungkin ada kebenaran, kebaikan, pembenaran, kekurangan, kesalahan, kebusukan. Ada malaikat dan ada iblis. Banyak hal yang terjadi, dan kita –Anda, saya, dan mungkin adik-adik kita yang nanti membaca ini- Insya Allah bisa banyak belajar. Belajar tentang hebatnya panitia-panitia PPAB 2004-2004, tentang kesalahan yang pernah dilakukan, tentang betapa semangatnya angkatan yang di-PPAB, tentang kondisi MTI saat itu.

Dari sisi kami, panitia, tulisan ini ialah pembuktian keberadaan kami, dan tak berhenti sampai disitu: keinginan untuk memberi sumbangan kecil, semampu kami, untuk pembelajaran selanjutnya. Tak berarti yang kami lakukan sudah baik, tapi dari kritik, saran, dan pembacaan seksama (dari kesalahan-kesalahan kami) kita pun dapat sama-sama belajar.

Dari Anda, yang kami harapkan adalah jangan berhenti belajar. Gajahmada tak akan dikenang sebagai pemersatu nusantara bila tak ada sejarahwan yang mempelajarinya. Kita tak bisa belajar bangun dan runtuhnya Roma bila tak ada yang mencoba memahaminya. Tulisan hanya akan tinggal jadi seonggok tulisan (dan mungkin lebih baik menjadi berguna bila jadi bungkus gorengan), kecuali bila anda mulai membaca dan mengambil pelajaran.

Akhirnya, selamat membaca dan belajar!!

No comments:

Post a Comment