Saturday, May 14, 2005

Menulis dan Narsisme

Akhirnya…bikin juga blog.
Udah mau dari kemaren dulu, tapi baru sempat sekarang.
Emang ngapain bikin blog?


Jelas, menuju keabadian, dan hakikatnya, ya, penyaluran narsisme! Manusia dilahirkan bersifat narsis, dan punya beragam cara menyalurkannya. Sejak awal bayi lahir, ia menangis, minta diperhatikan orang-orang, dan seakan menyerukan pada dunia: I’m here, I’m alive! Waktu kecil, sadar atau tidak sadar (Sartre dalam ‘kata-kata’ menceritakan dengan begitu bagus tentang hal ini), kita mencari perhatian. Kita menjadi anak yang lucu, berlarian kesana-kemari, melakukan hal-hal yang diminta orang-orang yang lebih tua sekedar untuk kesenangan mereka – karena kesenangan mereka hakikatnya menjadi kesenangan kita: kesenangan saat kita diperhatikan dan ‘mengada’. Saat makin dewasa, makin beragam cara untuk narsis. Kita bisa berprestasi dengan sangat baik, bisa jadi nakal senakal-nakalnya, bisa jadi (seolah-olah) orang yang tak peduli dan sangat cuek (tentu dengan harapan kecuekan dan ketidak-peduliannya itu dipedulikan…), dan beragam cara lain. Berorganisasi. Belajar. Berprestasi. Tampil depan umum. Berbicara. Berpidato. Atau sekedar diam saja.

Mari kita tambahkan aktivitas narsistik sehari-hari kita: sejak bangun tidur kita berdoa, tentu untuk kebaikan sendiri juga…Lalu bercermin, sambil mengagumi diri, kadang-kadang dengan sedikit penyesalan juga (aduh gw kegemukan, aduh gw kurang tinggi, de-el-el…).Terus mandi, pilih baju yang matching (atau baju yg kontroversial, biar diperhatikan- wah, sama-sama narsis juga!). Di kampus, kita ketemu dan bergaul dengan teman-teman yang memahami kita, yang bisa ‘match’ ama kita, karena pada lingkungan itulah kita merasa nyaman dan dihargai..narsis lagi. Hari itu berjalan terus…sampai tidur, dan kita berdoa lagi (tentu juga termasuk buat diri sendiri). Dalam mimpi pun kadang-kadang kita mimpi jadi orang yang diperhatikan, atau saat kita tidur dan tak sadar pun, kita mengigau, supaya, lagi-lagi, diperhatikan orang! Luar biasa narsis manusia itu!

Nah, saya memilih menjadi narsis dengan menulis. Inilah bentuk narsisme paling absolut: inilah diri saya, inilah apa yang saya pikirkan, inilah pandangan saya, inilah dunia saya…lihat, dong!!! Menulis juga bentuk narsisme paling tahan lama, karena dengan menulis sekarang, saya tak hanya narsis saat saya menulis atau saat tulisan saya dibaca, tapi saya juga mewariskan terus tulisan saya hingga kalau bisa ke generasi-generasi seterusnya, sampai kiamat nanti. Jadi, saya bisa narsis sepanjang zaman semenjak saya menuliskan dan mempublikasikan kenarsisan saya. Enak, kan? Menulis juga berarti menjadi narsis dengan pilihan, dengan kesadaran penuh. Saya sadar akan apa yang saya tuliskan, atau apa implikasi dari yang saya tuliskan. Saya sadar, mungkin anda akan berkesimpulan: ih, narsis banget ni anak! Biarkan, saya sadari itu! Tambahan lagi, menulis juga berarti narsis dengan cara yang sangat gaya, sangat (sok) intelek. Ada orang yang memilih narsis dengan cara membicarakan kehebatan (sekaligus kedunguan) dirinya di depan orang lain – suatu cara narsis yang menurut saya sangat bodoh, sangat tidak intelek, sangat vulgar dan sangat tidak elegan. Bikin males orang. Mendingan nulis, lebih gaya!

Nggak apa-apa jadi narsis (hal itu sangat manusiawi), tapi jadilah narsis dengan cara yang benar. Dan jangan lupakan, bukan hanya Anda sendiri yang narsis, tapi juga orang lain, juga seluruh manusia yang ada di muka bumi ini (bahkan orang mati juga, buktinya, nisan didirikan dengan namanya, supaya bisa tetap dikenang. See, saat kita mati pun kita narsis!). Jadi, penuhilah ego kenarsisan orang lain selain menunjukkan ego narsis diri sendiri. Dengan menjadi narsis dan menghargai kenarsisan (diri sendiri atau setiap orang lain), kehidupan dapat terjaga…

Untuk penghargaan kenarsisan saya dan menunjukkan kenarsisan Anda, silakan komentari. Silakan beri masukan.
Dasar makhluk narsis!!!

1 comment:

  1. Assalamualaikum wr wb..
    Alhamdulillah,,jadinya kang lucky punya blog juga, semoga istiqomah aja dalam kenarsisannya (baca: nulisnya). Ehm..discuss bout narsis, jd inget cerita pengantar di Sang Alkemis,, well ternyata semua makhluk itu narsis ya.. I'm narsis then I'm exist....hehehe..
    Ada bagian tulisan lucky yang bikin saya cukup tertohok, ketika berbicara tentang orang yg narsis dgn cara yg tidak elegan,yaitu yg nyeritain ttg diri sendiri, jd inget saya tuh orang yng paling suka ngebagi cerita yang dialamin (yang tentu aja)kebanyakan ada tokoh saya di sananya...kebiasaan seorang sanguinis kali ya… :p ehmm smg itu bukan ekspresi narsis tidak intelek yg diceritain lucky... (manajemen rasionalisasi nih..nyoba ngerefleksiin duluan sebelum dicerca..so punya pembenaran buat apa yang saya lakuin hehehe…)
    In my opinion..menulis emang bagian dari keabadian, tapi nulis ga cuma ungkapan dari kenarsisan dan ekspresi dari keinginan untuk di akui, lebih dari itu menulis adalah bagian dari kehidupan, mencoba membagi “sesuatu” kepada orang lain lewat frasa-frasa dan untaian kata yang sederhana tapi penuh makna.
    Jadi inget tulisannya M.Fauzhil Adhim..di salah satu artikel di Annida kalo ga salah, “Di luar kecerdasan otak, sikap mental yang baik dan kekuatan motivasi, faktor yang sangat berperan dalam membangkitkan kehebatanmu adalah kejernihan spiritual” .So… semoga tulisan-tulisan kang Lucky jadi tulisan-tulisan yang didasari kecerdasan otak, kecemerlangan pikran and of course kejernihan spiritual biar tulisannya makin kaya dan bermakna. 
    last but not least... ttp semngat nulisnya..semoga jd inspirasi buat orang lain...(ga sekedar narsis doang)..Amiin..
    Wassalamualaikum wr wb..

    ReplyDelete