Thursday, March 07, 2013

Tangan Kiri Jangan Sampai Tau

Kalau sedekah dengan tangan kanan, tangan kiri jangan sampai tahu.

Saya gak tau itu dari hadist, atau cuma ujaran bijak saja. Logis saja, supaya menghindari riya', alias keinginan ingin dipuji, yang berarti tidak ikhlas, dan ga bener dong niatnya. Jadi, kalau berbuat baik sama orang lain, mending diem-diem aja, supaya tetap ikhlas.

Cuma sebenarnya ada implikasi sosial yang bagus kalau sedekah diam-diam. Ilustrasinya begini. 

Ada orang kaya yang terkenal keluarganya sangat dermawan. Dia juga sangat ikhlas. Ga pernah menolak orang lain, terkenal ringan tangan, suka membantu, dan bukan dengan untuk riya', tapi ya memang suka bantu aja. Karena ikhlas & sedekahnya itu konsisten, sepanjang hayat dia, reputasi sebagai orang ringan tangan pun terbangun. 

Nah, dengan reputasi seperti itu, mulai banyak tamu-tamu dari jauh yang datang ke rumah dan kantornya. Ceritanya beragam dan ajaib. Ada yang bilang bangkrut usahanya sementara ia punya anak istri. Ada yang bilang bantu pesantren di desa bojongkenyot (nama imajiner yag ternyata ada di Jawa Barat). Pembangunan masjid di madura, padahal keluarga dermawan ini tinggal di Jakarta. Mantan napi yang ingin tobat. Kadang-kadang cerita napi tobat ini dibumbui kisah kejahatannya: dia abis membunuh satu keluarga tapi dapat hidayah di penjara. Ada residivis minta sumbangan terus ngaku dia mantan pembunuh satu keluarga - hebat kalau misalnya anda bisa nolak dia. 

Karena keluarga dia baik, ya dia kasih aja. Karena dikasih, tiap tahun, atau tiap bulan, secara periodik peminta sumbangan itu datang lagi. Basically free lunch buat mereka. Modal ongkos doang, tapi dapat regular income. Mengenai bener atau nggak tujuan sumbangannya, ga ada yang tau. Ga mungkin juga untuk keluarga dermawan itu untuk menginvestigasi atau memonitor sumbangannya.

So, problemnya adalah moral hazard: "The risk that a party to a transaction has not entered into the contract in good faith, has provided misleading information about its assets, liabilities or credit capacity, or has an incentive to take unusual risks in a desperate attempt to earn a profit before the contract settles"  http://www.investopedia.com/terms/m/moralhazard.asp#ixzz2MprEM3bZ

Nggak sepenuhnya tepat sih, tapi mirip. Moral hazard paling enak diterjemahkan di bahasa Indonesia dengan kata aji mumpungisme. Mumpung masih bisa dikasih, minta terus aja sama keluarga dermawan itu. 

Nah, problem potensi moral hazard ini yang sebenarnya sejak awal dimitigasi dengan anjuran agar kalau berbuat baik kepada orang lain itu diam-diam. Kalau nggak ada yang tau kita ngasih, ga ada reputasi, ga terkenal, ga potensial dimanfaatkan orang lain para rent seeker. Selain memurnikan niat, implikasi sosial yang potensial meribetkan seperti moral hazard ini juga dihindari dengan sedekah diam-diam.

Untuk yang satu ini, logis sekali memang anjuran agama. Lebih baik tetap menulis "Hamba Allah" dalam sumbangan. Atau ga usah rame-rame lah :). Yang nyumbang kan personal, bukan partai yang nyumbang kan, hihihi...

Sunday, November 11, 2012

Tautan Minggu Ini

Ini beberapa pieces yang menarik yang saya temukan sekarang-sekarang ini di internet.

1. Most mind boggling time travel paradox, baca di sini. Baca jawaban yang dapet upvotes paling banyak alias jawaban pertama. Puyeng dah :p

Saya kemarin nonton loopers, yang ceritanya juga tentang time travel paradox. But nothing comparable to this story! By the way, ini dari pertanyaan di Quora. And I really recommend you to follow some topics in quora and browse some questions and answers. Super awesome!

2. Malcolm Gladwell reveals writing strategies . Yang menarik selain saran-saran dia adalah proyek yang sedang dia kerjakan. Salah satunya, lulusan ivy league, in term of career outcome, not necessarily above par from their counterpart with similar intellect from state university. Topik yang cukup intriguing, apalagi buat anda yang konon lulusan sekolah elit. Saya pernah baca sebelumnya juga di new york times kalau ga salah. Mungkin bisa di-google.

3. Universal financial plan dari Scott Adams.  Scott Adams itu yang bikin comic strip Dilbert, kalau di Indonesia ada di kompas di bagian klasika (eh masih ada ga?). Saya suka juga sih komiknya, soal-soal tentang kantor dan pekerjaan, dan dari komiknya sih, Adams ini kayaknya pinter banget. Ini 9 poin tentang personal finance yang seharusnya dilakukan setiap warga Amerika Serikat. Ga bisa salah deh. Selain point nomer 4 dan 5 (tentang 401K dan IRA), yang lain juga kontekstual buat di Indonesia. Ganti aja nomer 4 dan 5 dengan rencanakan pensiun anda dengan membuat investasi pensiun.

Seru juga sharing link yang menarik dan mengomentari. Minimal ada bahan menulis.

Wednesday, November 07, 2012

November

Akhirnya ke Jakarta lagi, spend my time with family and friends. And unemployed, haha.

Technically saya belum lulus, soalnya masih menunggu nilai untuk research project akhir dan hari kelulusannya juga Desember. Jadi masih bisa berlindung di balik status student lah, hehe. Tapi internship saya udah beres, kerinduan saya sama istri dan anak memuncak, tax rate Belanda masih tinggi, krisis ekonomi Eropa belum beres dan Indonesia kayaknya masih hot, jadi mendingan saya balik. 

Membangun bangsa, dengan cara membangun diri sendiri dan keluarga ;p

Melihat lagi ke belakang, mixed feeling sih. Tapi pada akhirnya sih harus bersyukur. Kita perlu break dari rutinitas, dan satu tahun lebih jalan-jalan di Eropa sambil belajar bukan ide yang buruk. Kita juga kadang-kadang perlu me-reset sesuatu, dan menganggur lagi, sambil mengganti waktu dengan main sama Agan & ibunya, juga asyik. Anak saya berhasil meningkatkan level sayangnya pada saya. Tadinya, "sayang banget" itu cuma predikat sayang buat bundanya, tapi setelah maen terus, bahu yang pegel soalnya maunya manjat di bahu saya dan maen kuda-kudaan terus, level sayang dia buat sayang meningkat, dari "sayang aja bukan sayang banget" ke "sayang banget", hehe... Kita juga membuat rencana-rencana baru dengan istri, melihat rencana kemarin, mana yang gagal dan mana yang perlu adjustment.

Luv u Bundgan & Agan. Makasih untuk terus mengerti.

Saturday, September 01, 2012

Akhir Dilema Gigi Bijaksana

Ini lanjutan dari postingan tentang gigi geraham terakhir disini. akhirnya, 2 gigi geraham akhir alias wisdom teeth saya dengan sukses dicabut.

Saya sempat bingung sebelum mau dicabut. Soalnya, setelah ibuprofen (yang cuma sekali atau dua kali saya minum) dan amoxilin (saya habiskan), gigi saya udah ga sakit lagi. Sempat googling kemana-mana, tapi tetap inkonklusif. Ada beberapa diskusi tentang apakah wisdom teeth perlu dicabut atau tidak, karena ini pun masih didebatkan, malah ada konferensi yang bahas topik ini secara khusus segala.

Ini intisari yang saya dapatkan tentang apakah wisdom teeth perlu dicabut atau tidak. Kalau tidak mengganggu, biarin aja. Ini berhubungan dengan praktek & rekomendasi dokter gigi yang biasanya menyarankan anak US yang baru mau masuk college untuk dicabut wisdom teethnya, supaya ga mengganggu pas college.

Kalau udah mengganggu, sakit terus-terusan, ya dicabut aja. Nah, untuk kasus saya, ini gigi ga pernah bermasalah. Masalah saya dengan gigi itu cuma karang gigi alhamdulillah. baru kemaren aja sakit gigi sampai bengkak. Udah dikasih antibiotik, terus ga pa-pa. Jadi gimana, dicabut atau nggak?

Lagi-lagi, gak ada best practice atau riset yang konklusif. Buat kasus saya, kalau dulu-dulu ga ada masalah, terus sekarang ada masalah, berarti ada dua kemungkinan: nanti ke depan bakal biasa aja gak bermasalah atau mungkin akan berulang. Terus saya liat hasil rontgen gigi, emang itu gigi terakhir tumbuhnya miring. Nah tapi wabil khusus untuk gigi geraham bawah kanan, kemiringannya ga simetris dengan gigi lain. Terus saya juga mencoba nyari sebab kok tiba-tiba sakit ini gigi. Sepertinya sih karena infeksi, karena saya inget sebelum infeksi abis makan bakmi China yang enak malem-malem terus ga gosok gigi. Nah bakmi ini sayur-sayurannya potensial banget nyangkut di gigi. Dengan posisi miring yang asimetris begitu, kalau udah ada yang nyangkut di gigi terakhir, susah digosok dan bisa jadi infeksi.

Kalau emang sebabnya begitu, ada kemungkinan di masa depan juga bakal terulang. Jadi, yo wis, dicabut aja deh. Tambahan lagi, nyabut gigi ini di-cover asuransi saya. Hehe, lumayan lah, daripada premi saya ga kepake. Sekarang, dengan premi yang saya bayar dan treatment yang saya terima, break even deh, hahaha...

Terus gimana dicabutnya? Sebelum dicabut, disuntik anestetik lokal dulu 4 suntikan, bikin gusi jadi kebas. Gigi geraham yang atas duluan - cepet banget! Kurang dari 1 menit udah bisa diambil, dengan gigi yang utuh. Gigi geraham yang bawah problematis. Karena ada risiko kena ke saraf yang lewat bawah bibir, yang bisa-bisa bikin saya kebas seumur hidup di wilayah itu (bagus juga sih, kalau dihajar di rahang kanan ga bakal ngerasa apa-apa, heuhehe). Terus, posisinya jelek banget. It took 45 minutes for that tooth! Pake bor, jadi gigi saya dihancurin dulu. Dibelah jadi dua, baru diambil. Sisa giginya ada dua gitu, dan banyak yang ancur.

Yang cukup irritating adalah abis dicabut. Malem pertama, abis efek anesthetic ilang, sakit banget! Berdarah pula. belum boleh kumur-kumur. Makan juga susah, buka mulut gede-gede ga bisa soalnya sakit. Minum painkiller, makan pisang dikit-dikit, tidur.

Abis itu, hari-hari berikutnya masih sakit. kalau makan yang lunak-lunak aja, dikunyah di sisi yang gak dicabut giginya. Kadang-kadang sakit banget, sampe menggigil kalau gak minum painkiller. Saya dicabut tanggal 22 Agustus, dan baru sekarang agak kerasa enak. Tapi masih kerasa juga sih ada yang hilang.


Monday, August 20, 2012

Puasa Summer di Belanda

Ini beberapa catatan.

Memulai puasa. Di masyarakat dimana muslim adalah minoritas, dan punctuality dan uncertainty avoidance itu penting, waktu yang fix dan bisa direncanakan jadi suatu keharusan. Itu membuat metode penentuan awal ramadhan dengan menghitung atau hisab jadi solusi yang lebih feasible dibanding melihat hilal. Apalagi untuk wacana libur publik, memberikan cuti atau izin tidak masuk untuk pekerja muslim, kepastian seperti itu yang diperlukan. Susah dong menjelaskan "saya pengen libur tanggal segini, tapi tergantung hilal terlihat atau kagak". Makanya asosiasi Islam di Eropa, dan di Belanda juga, jadinya pake hisab, yang memberikan tanggal pasti. Saya memulai ramadhan tahun ini hari Jumat, sesuai hilal. Ada juga sih yang memulai hari sabtu, katanya komunitas Maroko disini. Komunitas muslim turki disini memulai mengikuti turki (turki terkenal sebagai negara pertama yang memasyarakatkan penggunaan hisab), jadi mereka juga mulai Jumat. KBRI juga merekomendasikan hari Jumat.

Puasa di musim panas. Lumayan juga. Waktu saya memulai puasa Jumat bulan lalu, mulai puasa sekitar jam 2:50-an, lalu buka sekitar jam 10 malam. Puasa 18 jam! Wah gimana tuh? Alhamdulillah lancar-lancar aja. Agak sedikit problematik sih buat merencanakan tidur. Mulai Isya itu jam 12 - tarawih juga mulai jam segitu. Itu tengah malem ya - jadinya kalau tarawih ya di rumah aja. Mulai subuh jam 3. Berarti rentang boleh makan dari jam 10 sampai 12 aja. Buat orang yang malas beranjak dari tempat tidur saat pagi seperti saya, ini jadi masalah. Kalau tidur jam 10 abis maghrib, belum Isya, dan minimal harus bangun jam setengah 3. Saya ga yakin bisa bangun jam segitu. Kalau tidur jam 12, abis isya, apalagi. Dijamin ga bangun jam setengah 3.

Jadi gimana? Jadwal saya jadinya begini: tidur abis shubuh, bangun jam 8:30 pagi. Terus mandi, ngantor, pulang kantor sekitar jam 6 sore abis Ashar - tidur lagi, hehehe.. Bangun pas buka. Abis itu ga tidur sampe shubuh. Lumayan berhasil metodenya. Saya selalu sahur, cuma 1-2 kali kelewatan. Terus pas sore-sore juga lagi lemes-lemesnya, jadi ya enak emang tidur.

Puasa dan kinerja. Penting untuk menjaga kinerja, apalagi pas jadi minoritas, untuk menunjukkan ibadah ga jadi penghalang untuk kerja yang bagus. Tapi seriously, terutama di hari pertama, lumayan kerasa nih penurunan kinerjanya. Kepala pusing - belum biasa dengan jadwal terjaga tengah malam, baru tidur abis shubuh dan bangun jam 8:30. Pas siang ngantuk. Badan saya malah agak anget di hari pertama, dan kata temen sih malah keliatan pucat. Untung saya cuma intern, dan awal puasa hari Jumat dimana biasanya orang-orang lebih relax. Namun, setelah tubuh beradaptasi, biasa aja kok. Biar kata 18 jam juga. Saya ngeberesein tesis saya, bikin & presentasi kerjaan di sini pas puasa. Termasuk juga jalan-jalan ke kantor lain, sekita 10 kilometer di siang yang panas pake sepeda, alhamdulillah ga masalah. Sebenernya sih tubuh kita akan beradaptasi dan menciptakan keseimbangan hemoestatis baru - yang relatif cepat, 2-3 hari. Jadi sebenenya, biar kata 18 jam, tapi feel like 9 jam tiap hari. Lha wong tidur abis shubuh - 5 jam, terus tidur lagi jam 6 - 3 jam. Praktis tinggal 9 jam puasa dijalani secara sadar, sisanya dalam mimpi, hehe...

Idul fitri. Komunitas orang Indonesia di Eindhoven bikin acara sholat Id, di lapangan kampus TUE juga. Eh tapi sayangnya, karena terbiasa dengan jadwal lama, saya baru bangun jam 8-an juga. Udah telat, hehe... jadi ikut di masjid turki deket kota. Kagak ngarti, kagak ada yang kenal, tapi ya seru juga sih. Abis itu ya biasa ajah, ordinary day. Besoknya malah udah kerja. Sedih sih, tapi ya tinggal nelpon aja ke Indonesia. Saya ga sentimentil juga sih, mungkin karena dari bulan-bulan kemaren juga sendiri, jadi kalau kangen sih udah biasa, hehe... Alhamdulillah lebarannya hari minggu pas libur. Tapi Senin udah masuk lagi.

Abis puasa, harus me-reset lagi jam tubuh nih. Sekarang jam 12 malah nggak lapar. Dan perut juga terlatih lho, ga gampang lapar. Jadwal tidur juga harus di-reset lagi. Berat badan saya juga turun lagi nih. Kayaknya ini berat badan saya yang paling enteng sejak 6 bulan abis nihkah, hehe...